
BAB
I
PENDAHULUAN
BIB
Lembang didirikan tahun 1975 dan diresmikan oleh Menteri Pertanian RI dan Wakil
Perdana Menteri Selandia Baru pada tanggal 3 April 1976. Sebagai BIB pertama di
Indonesia, diberi mandate pemerintah untuk melaksanakan
penyusunan program, rencana kerja, dan anggaran, pelaksanaan kerjasama,
serta penyiapan evaluasi dan pelaporan, pelaksanaan pemeliharaan pejantan
unggul, pelaksanaan produksi, dan penyimpanan semen beku ternak unggul,
pemeliharaan ternak untuk inseminasi, pengolahan hijauan dan pengawasan mutu
pakan ternak, pemberian, pelayanan teknis pemeliharaan ternak.
Manajemen agribisnis dapat diartikan sebagai seperangkat
keputusan untuk mendukung proses produksi agribisnis, mulai dari keputusan
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian, hingga
evaluasi proses produksi. Manajemen produksi memiliki dampak menyeluruh dan
terkait dengan berbagai fungsi, seperti fungsi personalia, keuangan, penelitian
dan pengembangan, pengadaan dan penyimpanan, dan lain-lain.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk
mempelajari manajemen pengelolaan dan pengawasan mutu semua proses produksi di
Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang. Manfaat yang diperoleh yaitu mengetahui
tahapan inseminasi buatan yang benar , mengetahui segala perencanaan yang
dibutuhkan pada inseminasi buatan, serta dapat mengetahui tentang manajemen
agribisnis yang digunakan di Balai Inseminasi Buatan Lembang

BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Keadaan Umum Perusahaan
Sejarah
BIB Lembang merupakan salah satu BIB nasional yang tertua di Indonesia,
berpartisipasi secara aktif dalam pengembangan bidang peternakan di Indonesia
dengan menyiapkan bibit- bibit unggul melalui produksi semen beku dari pejantan
yang berkualitas prima, BIB Lembang telah memproduksi semen beku lebih dari 28
juta dosis dan telah tersebar di seluruh wilayah Republik Indonesia. Jumlah
produksi semen beku BIB Lembang setiap tahun mengalami peningkatan sesuai
dengan target produksi, kemampuan pejantan dan dana yang tersedia. Saat
ini luas keseluruhan BIB lembang ± 22,55 ha, dengan luas bangunan + kandang +
jalan ± 4 ha dan luas kebun rumput: ± 18,55 ha. Ruang lingkup pada BIB lembang
meliputi persyaratan mutu semen, pengujian, pemeriksaan mortalitas secara
laboratorium (Salamah,
2011).
Ruang lingkup Standar Balai
Inseminasi Buatan meliputi istilah dan definisi, spesifikasi, persyaratan mutu,
pengemasan, pengambilan contoh semen beku di tingkat produsen dan konsumen,
pemeriksaan contohuntuk semen beku sapi (SNI 01-4869.1, 2005).
2.2. Perencanaan
Manajemen merupakan usaha yang dilakukan secara
bersama-sama untuk menentukan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan
pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning)
yang terstruktur dengan baik, dengan perencanaan
yang matang (Manulang, 1983). Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran
yang hendak dicapai dan menetapkan jalan serta sumber yang diperlukan untuk
seefisien dan seefektif mungkin (Kaufman, 1972).
2.3. Pengorganisasian
Fungsi manajemen pengorganisasian sangat bermanfaat
seperti dapat lebih mempertegas hubungan antara anggota satu dengan yang
lain, setiap anggota organisasi dapat
mengetahui apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai
dengan posisinya dalam struktur organisasi, akan tercipta pola hubungan yang
baik antar anggota organisasi, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan dengan
mudah (Handoko, 1986). Fungsi pengorganisasian yaitu untuk
mengorganisasikan semua karyawan dengan pembagian kerja, hubungan kerja,
delegasi wewenang, integrasi dan koordinasi dalam bagan organisasi sehingga
program kerja bisa berjalan dengan baik dan makimal (Moekijat, 1987).
2.4.
Pelaksanaan
Penerapan
manajemen kualitas semen beku di Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang dimulai
dari tahap praproduksi, proses produksi, dan pascaproduksi. Pada tahap
praproduksi dilakukan evaluasi kualitas semen segar secara makroskopis (volume,
warna, kekentalan, dan pH), dan evaluasi spermatozoa secara mikroskopis (gerak
massa, motilitas, dan konsentrasi), tahap proses produksi dilakukan pengolahan
semen segar menjadi semen beku, sedangkan pada tahap pasca produksi dilakukan
pengemasan dan penyimpanan semen beku agar sesuai dengan standar yang
ditetapkan (Wahyu, 2008). Komoditas yang menyangkut kepentingan
orang banyak diatur oleh pemerintah (Soekarwati, 2002).
2.5. Pemasaran
Promosi
faktor keterampilan usaha yang perlu di miliki antara lain keahlian, kemampuan,
ketrampilan, teknis, pengetahuan dan sebagainya. Pelaksanaan promosi dilakukan
juga dengan mengumpulkan informasi market beserta jenis grade pada produk
(Alma, 2000). Informasi barang yang diminati
oleh konsumen berguna dalam manajemen persediaan yang dilakukan oleh suatu
perusahaan. Informasi/market information adalah fungsi untuk mengumpulkan dan
penafsiran keterangan-keterangan tentang macam barang yang beredar dipasaran,
jumlah, macam barang yang dibutuhkan konsumen, harga dan sebagainya (Winardi,
1989).
2.6. Pengawasan
pengawasan ialah suatu proses dimana pimpinan ingin mengetahui apakah
hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya sesuai dengan
rencana, perintah, tujuan, atau kebijaksanaan yang telah ditentukan
(Handayaningrat, 1994).pengawasan yaitu melakukan penyelidikan dan
membandingkan dengan rencana-rencana dan diadakannya pembenahan dari
penyimpangan yang mungkin terjadi (Moekijat, 1999).

BAB
III
MATERI
DAN METODE
Praktikum Manajemen
Agribisnis Peternakan yang dilakukan pada hari Jumat tgl 14 November 2014 pkl
13.00-15.00 Balai Inseminasi Buatan Lembang, Bandung Jawa Barat.
3.1.
Materi
Praktikum manajemen agribisnis
peternakan menggunakan peralatan yaitu kuesioner sebagai lembar pertanyaan yang
akan digunakan untuk bertanya kepada pihak Balai Inseminasi Buatan di Lembang
Bandung, alat tulis digunakan untuk mencatat hasil dari wawancara dan
pengamatan yang telah dilakukan, kamera digunakan untuk memotret area sekitar
Balai Inseminasi Buatan Lembang Bandung dan juga alat perekam digunakan untuk
merekan saat sesi wawancara kepada pihak Balai Inseminasi Buatan Lembang
Bandung.
3.2. Metode
Dalam pelaksanaan praktikum di BIB Lembang
Bandung yang pertama para mahasiswa mendengarkan penjelasan tentang sejarah dan
kegunaan berdirinya BIB Lembang Bandung. Kedua mahasiswa diberi kesempatan
tanya jawab tentang bagaimana pelaksanaan tahapan inseminasi buatan. Ketiga
para mahasiswa mengamati fungsi – fungsi dari sarana dan prasarana yang
dimiliki BIB Lembang Bandung. Keempat
mahasiswa mengamati sumber daya manusia manajemen keuangan dan manajemen
pemasaran. Kelima mahasiswa selanjutnya mengamati pelaksanaan evaluasi dari
fungsi-fungsi dari kegiatan BIB Lembang bandung. Selanjutnya mahasiswa
memberikan analisa tentang fungsi-fungsi manajemen yang dilakukan pada BIB
Lembang Bandung. Kemudian memberikan analisa tentang keberhasilan manajemen
dalam memenuhi targetnya. Mahasiswa juga mengamati hambatan-hambatan apa saja
yang dialami BIB Lembang Bandung dan cara mengatasi hambatan-hambatan dalam
memenuhi target. Mahasiswa juga memberikan analisanya dalam perencanaan dan
pengembangan fungsi- fungsi manajemen di masa mendatang sesuai temuan evaluasi
manajemen. Mahasiswa memperoleh data fungsi-fungsi manajemen agribisnis dari
pengamatan dengan wawancara kepada manajer menggunakan Quesioner.

BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1. Keadaan Umum Perusahaan
Berdasarkan hasil praktikum dapat di
simpulkan bahwa Balai Inseminasi Buatan Lembang yang berlokasi di jalan Kiwi
Kayu Ambon 78 Lembang Bandung. BIB lembang didirikan pada tahun 1975 dan diresmikan
oleh menteri pertanian RI dan wakil perdana
menteri selandia Baru pada 3 april 1976. Sejak berdiri BIB lembang telah
menghasilkan 33.000.000 dosis semen beku yang telah disebarkan keseluruh
Indonesia. Ruang lingkup meliputi persyaratan mutu semen, pengujian semen
secara laboratorium dan pengemasan,hasil
akhirnya didistribusikan ke masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Salamah (2011) yang menyatakan bahwa
Sejarah BIB Lembang merupakan salah satu BIB nasional yang tertua di Indonesia,
berpartisipasi secara aktif dalam pengembangan bidang peternakan di Indonesia
dengan menyiapkan bibit- bibit unggul melalui produksi semen beku dari pejantan
yang berkualitas prima, BIB Lembang telah memproduksi semen beku lebih dari 28
juta dosis dan telah tersebar di seluruh wilayah Republik Indonesia. Jumlah
produksi semen beku BIB Lembang setiap tahun mengalami peningkatan sesuai
dengan target produksi, kemampuan pejantan dan dana yang tersedia. Saat
ini luas keseluruhan BIB lembang ± 22,55 ha, dengan luas bangunan + kandang +
jalan ± 4 ha dan luas kebun rumput: ± 18,55 ha. Ruang lingkup pada BIB lembang
meliputi persyaratan mutu semen, pengujian, pemeriksaan mortalitas secara
laboratorium. Hal ini sependapat dengan
SNI 01-4869.1 (2005) yang menyatakan bahwa RuanglingkupStandar Balai
Inseminasi Buatan meliputi istilah dan definisi, spesifikasi, persyaratan mutu,
pengemasan.
4.2. Perencanaan
Berdasarkan
hasil praktikum diperoleh hasil bahwa BIB Lembang di rencanakan dapat mendistribusikan semen mencapai seluruh Indonesia, bahkan
hingga keluar negeri. Perencanaan program kerja yang ada di BIB Lembang
berstruktur dengan baik terlaksana sesuai dengan perencanaan.Hal ini sesuai
pendapat Manulang (1983) yang menyatakan bahwa
manajemen merupakan usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk
menentukan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan
fungsi-fungsi perencanaan (planning) yang terstruktur dengan baik, dengan perencanaan yang
matang. Kaufman (1972) yang menyatakan bahwa
perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan
menetapkan jalan serta sumber yang diperlukan untuk seefisien dan seefektif
mungkin.
4.3. Pengorganisasian
Berdasarkan praktikum
diperoleh hasil bahwa organisasi yang ada di BIB Lembang berstruktur dengan
baik dan bekerja secara team dengan bertanggung jawab sesuai dengan posisinya
dalam struktur organisasi sehingga memungkinkan tercapainya tujuan dengan baik.
Hal ini sesuai dengan pendapat Handoko (1986) yang menyatakan bahwa fungsi
manajemen pengorganisasian sangat bermanfaat seperti dapat lebih mempertegas
hubungan antara anggota satu dengan yang lain,
setiap anggota organisasi dapat mengetahui apa yang menjadi tugas dan
tanggung jawab masing-masing sesuai dengan posisinya dalam struktur organisasi,
akan tercipta pola hubungan yang baik antar anggota organisasi, sehingga
memungkinkan tercapainya tujuan dengan mudah. Moekijat (1999) yang menyatakan bahwa fungsi pengorganisasian yaitu untuk
mengorganisasikan semua karyawan dengan pembagian kerja, hubungan kerja,
delegasi wewenang, integrasi dan koordinasi dalam bagan organisasi sehingga
program kerja berjalan dengan baik dan maksimal.
4.4.
Pelaksanaan
Pelaksanaan pada
manajemen agribisnis peternakan di BIB Lembang dimulai dari pemilihan pejantan
unggul. Produk
yang diterima langsung dilakukan pengujian kualitas semen secara macroskopis
dan microskopis. Produk yang tidak memenuhi
standar langsung dibuang. Semen yang datang langsung diuji, semen yang
lolos pengujian akan langsung masuk ketahap berikutnya yaitu pengenceran dengan
bahan tertentu dan dikemas kedalam straw, pada suhu penyimpannan dilakukan
pengecekan terhadap semen yang ditampung
agar semen yang di simpan tidak kekurangan nitrogen cair. Hal ini sependapat
dengan Wahyu (2008) yang menyatakan bahwa
Penerapan manajemen kualitas semen beku di Balai Inseminasi Buatan (BIB)
Lembang dimulai dari tahap praproduksi, proses produksi, dan pascaproduksi.
Pada tahap praproduksi dilakukan evaluasi kualitas semen segar secara
makroskopis (volume, warna, kekentalan, dan pH), dan evaluasi spermatozoa
secara mikroskopis (gerak massa, motilitas, dan konsentrasi), tahap proses
produksi dilakukan pengolahan semen segar menjadi semen beku, sedangkan pada
tahap pasca produksi dilakukan pengemasan dan penyimpanan semen beku agar
sesuai dengan standar yang ditetapkan. Strategi penentuan
harga ditetapkan oleh pemerinta, karena BIB merupakan lembaga dibawah naungan
Menteri Pertanian. Hal ini sependapat dengan Soekarwati (2002) yang menyatakan
bahwa Komoditas yang menyangkut kepentingan orang banyak diatur oleh
pemerintah.
4.5. Pemasaran
Berdasarkan
praktikum diperoleh hasil bahwa pemasaran yang diterapkan pada BIB Lembang ada
tiga cara yaitu, Penjualan Langsung kepada peternak, Kerjasama Operasional dengan
perusahaan, Subsidi ke Dinas
Peternakan di seluruh Indonesia. Harga jual produk saat
ini adalah Rp. 8000,- per dosis untuk semen kelas A dan Rp. 7000,- per dosis
untuk semen kelas B, sedangkan untuk semen yang telah dilakukan sexing adalah
Rp. 40.000 per dosis untuk kelas A dan Rp. 36.000, per dosis untuk kelas B. Perusahaan
melakukan promosi, namun tidak sebesar promosi yang dilakukan oleh perusahaan
lain. Metode promosi yang digunakan adalah kemampuan, ketrampilan dan secara
teknis dengan menghadiri pameran dan membuka stand pada setiap kesempatan
bazar. Hal ini sependapat dengan Alma (2000) yang menyatakan dalam promosi
Faktor ketrampilan usaha yang perlu di miliki antara lain keahlian, kemampuan,
ketrampilan, teknis, pengetahuan dan sebagainya. Pelaksanaan promosi dilakukan
juga dengan mengumpulkan informasi market beserta jenis grade pada produk. Winardi (1989) menyatakan bahwa informasi barang yang
diminati oleh konsumen berguna dalam manajemen persediaan yang dilakukan oleh
suatu perusahaan. Informasi/market information adalah fungsi untuk mengumpulkan
dan penafsiran keterangan-keterangan tentang macam barang yang beredar
dipasaran, jumlah, macam barang yang dibutuhkan konsumen, harga dan sebagainya.
4.6. Pengawasan
Pengawasan pada manajemen agribisnis peternakan di BIB Lembang dimulai
dari pemilihan pejantan unggul, penampungan semen hingga pendistribusian ke
konsumen dilakukan oleh badan pengawas yang berfungsi untuk mengevaluasi
kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan apakah sudah sesuai dengan rencana. Hal
ini sesuai dengan Handayaningrat (1994) yang menyatakan bahwa pengawasan ialah
suatu proses dimana pimpinan ingin mengetahui apakah hasil pelaksanaan
pekerjaan yang dilakukan oleh bawahannya sesuai dengan rencana, perintah,
tujuan, atau kebijaksanaan yang telah ditentukan.Ditambahkan menurut Moekijat
(1999) yang menyatakan bahwa pengawasan yaitu melakukan penyelidikan dan
membandingkan dengan rencana-rencana dan diadakannya pembenahan dari
penyimpangan yang mungkin terjadi.



BAB
V
KESIMPULAN
5.1.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat di simpulkan
bahwa Balai Inseminasi Buatan Lembang
berlokasi di jalan Kiwi Kayu Ambon 78 Lembang Bandung mempuyai ruang
lingkup meliputi persyaratan mutu semen, pengujian semen secara laboratorium
dan pengemasan,hasil akhirnya
didistribusikan ke masyarakat.Perencanaan yang diterapkan dalam distribusi dilakukan dengan 3 cara,
yaitu, Penjualan Langsung kepada peternak, Kerjasama Operasional dengan perusahaan, Subsidi ke Dinas Peternakan di seluruh
Indonesia. Pelaksanaan
dimulai dari pemilihan pejantan unggul. Mengujian kualitas semen secara
macroskopis dan microskopis. Pengawasan
dilakukan oleh badan pengawas yang berfungsi untuk mengevaluasi
kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan apakah sudah sesuai dengan rencana.
5.2. Saran
Sebaiknya di BIB Lembang menyelenggarakan
pelayanan jasa informasi dan promosi serta pemasara semen beku dan pelayanan
purna jual kepada distributor hingga ke konsumen. Kebijakan operasional
tersebut dilaksanakan sejalan dengan tugas pokok dan fungsi BIB Lembang dengan
tetap mengutamakan tugas-tugas umum
DAFTAR PUSTAKA
Alma, B. 2000. Manajamen Pemasaran dan Pemasaran
Jasa.Edisi Dua. Alfabeta, Bandung.
Badan Standar Nasional
Indonesia. 2005. Semen Beku- Bagian 1; sapi
SNI 4869.1 ; 2005, Gedung
Manggala Wanabakti, Jakarta.
Handayaningrat.1994.
Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen. Haji Masagung. Jakarta.
Handoko, T. H. 1986. Manajemen, Edisi Kedua. BPFE,Yogyakarta.
Kaufman, Roger.A.1972. Education System Planning.
New Jersey.Prentice Hall.Inc.
Manulang, M. 1983.
Dasar-Dasar Manajemen, Edisi Ketiga. Erlangga, Jakarta.
Moekijat.1999. Manajemen Sumber
Daya Manusia (Manajemen Kepegawaian). Mandar
Maju. Bandung.
Salamah ,D. 2011. Pengantar Ekonomi Pertanian. PT Pustaka
LP3ES Indonesia. Jakarta.
Soekarwati.2002.
Analisis Usaha Tani, UI - Press. Jakarta.
Wahyu, J. 2008. Manajemen Mutu Semen Beku Sapi di Balai Inseminasi.
Buatan (BIB) Lembang Bandung. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Winardi. 1989. Pengantar Tentang Teori Sistem dan Analisis Sistem.
Penerbit Mandar, Bandung.
Comments
Post a Comment
Terima kasih sudah berkomentar,semoga bermanfaat