EVALUASI PRAKTIKUM
MANAJEMEN FEEDLOT
Manajemen Penggemukan Sapi Peranakan Ongole (PO) di Kelompok Tani Ternak (KTT) Sidodadi di Desa Cepoko, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang
No
|
KEADAAN
|
EVALUASI
|
SOLUSI
|
REFERENSI
| |||||||||
1.
|
Lokasi Peternakan
| ||||||||||||
|
: Dusun JetisTrawas, Desa Copoko, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang.
: mudah
: 345 mdpl
: 27o C
: 22o C
: 70%
: 80%
: 30 meter
: 29 km
|
e. Kelembaban tersebut sudah ideal untuk peternakan sapi potong.
f. Jarak peternakan terlalu dekat dengan pemukiman warga, sehingga dapat mengganggu kenyamanan warga sekitar.
g. Tempat pembelian cukup jauh
|
g. -
|
e. Kelembaban ideal bagi ternak potong adalah 60-80% (Abidin, 2008)
f. Lokasi untuk membangun kandang yang ideal adalah daerah yang letaknya cukup jauh dengan pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan (Ali et al., 2012)
g. -
| |||||||||
2.
|
Identitas/Organisasi Peternakan
| ||||||||||||
|
: KTT Sidodadi
: Bapak Amin Suyitno
: 2009
: Berawal dari keinginan warga untuk mempunyai penghasilan tambahan di bidang peternakan, dan guna untuk memudahkan keperluan peternak, maka dibentuklah Kelompok Tani Ternak
: Dari Pemerintah Kota Semarang
: Rp.500.000.000,-
: 50 ekor (gabungan antara sapi milik warga dan pemodal)
: 51 ekor
|
a. Harapan warga agar peternakan dapat benar-benar terwujud keberhasilanya.
b.-
c. Sudah cukup lama sejak mulai didirikan
d. Bagus untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar.
e. Dengan adanya ijin resmi maka peternakan semakin baik karena mendapat perhatian dari dinas peternakan
f. Peternakan dapat kucuran dana yang cukup besar dari pemodal.
g. baik, karena dengan gabungan menjadikan peternakan lebih besar.
h. -
|
|
| |||||||||
3.
|
Manajemen Perkandangan
| ||||||||||||
|
: 900 m2
: Terbuka
: Terbuat dari kayu dan bambu
: Kandang komunal
: kayu
: genting
: kayu
: semen
: 2 kandang
: Kandang kayu
: 1. 4x6x6=144 m2
2. 4x6x17=408 m2
: Sekitar 150 ekor
: ember, cangkul, sapu
: sapi yang ditempatkan di kandang tidak pernah di pindah-pindah tempat.
|
d. Sesuai untuk peternakan dengan jumlah ternak yang cukup banyak.
e. Bahan yang digunakan sangat sederhana.
f. Jumlah kandang sudah mencukupi.
g. Luas kandang sudah baik karena dapat memenuhi kebutuhan ternak seperti untuk pemeliharaan.
h. Kapasitas kandang mampu menampung sebanyak 150 ekor ternak. Hal ini sudah baik karena ternak yang dipelihara ada 51 ekor sapi.
i. Peralatan kadang sudah mencukupi
j. Sudah baik, karena menjadikan sapi tidak stres, dan bobot badanya cepat naik.
|
.
j.-
|
a. Luas lahan menentukan volume produksi dan tingkat pendapatan peternak ( Saragih, 2004)
b. Sistem kandang terbuka dapat meningkatkan produktivitas bagi ternak karena dapat memberikan rasa nyaman bagi ternak yang dipelihara ( Sarwono, 2012)
c. Dalam memilih bahan kandang hendaknya dipilih yang banyak tersedia dan minimal tahan digunakan untuk jangka waktu 5-10 tahun (Sukmawati et al., 2010)
d. Kandang komunal merupakan kandang bersama yang secara umum disediakan oleh pemerintah setempat yang bekerjasama dengan instansi terkait (Sarwono, 2012).
e. Untuk memenuhi standar kegunaan, kandang harus terbuat dari bahan yang berkualitas, tahan lama dan tidak mudah rusak ( Soeprapto dan Abidin, 2006)
f. Setiap usaha sapi potong yang akan didirikan harus merencanakan jumlah kandang yang akan di bangun sesuai dengan jumlah dan jenis sapi yang akan di pelihara (Siregar, 2008)
g. Umumnya kebutuhan luas kandang sapi potong per ekor sekitar 1.5 x 2.5 meter, 1.5 x 2 meter atau 1.5 x 1.5 meter ( Sudarmono A. S, 2008)
h. –
i. Kandang yang baik harus mempunyai alat penunjang kebersihan dan dapat membantu kinerja pekerja kandang maupun dalam proses sanitasi pada kandang (Ali et al., 2012).
j. Pembangumam kandang harus memberikan kemudahan perawatan sapi, mencegah sapi supaya tidak berkeliaran, dan menjaga kebersihan lingkungan (Siregar, 2008)
| |||||||||
4
|
Manajemen Pemeliharaan
| ||||||||||||
|
: intensif
: 8 bulan
|
|
|
a. Perawatan sapi yang lebih baik akan menghasilkan produktivitas yang optimal (Rismayanti, 2010).
b. Umumnya di butuhkan waktu 3-6 bulan untuk penggemukan sapi PO (Rismayanti, 2010)
| |||||||||
5
|
Manajemen Pemilihan Ternak Bakalan
| ||||||||||||
|
: sehat, kaki besar, kekar, mata bersinar, badanya panjang.
: Sapi Peranakan Ongole (PO)
: Pasar Hewan Ambarawa
: 8 bulan
: 140 kg
: 10-11 juta
|
|
|
f. –
| |||||||||
6
|
Manajemen Pakan
| ||||||||||||
|
: rumput lapangan
: Tidak ada, karena warga mencari pakan untuk ternak mereka sendiri
: Lahan sendiri dan lahan petani sekitar
: 9,6465
: 1,737026
: 0,0728931
: selalu ada
:30 kg/hari untuk satu ekor
: Pakan diletakkan di tempat pakan.
: 3 kali
: Tidak ada
: 35 liter
: Tidak ada
|
|
k. sebaiknya air minum diberikan secara ad libitum.
|
| |||||||||
7
|
Manajemen Pencegahan dan Pengobatan Penyakit:
| ||||||||||||
|
: kembung karena pakan hijauan langsung diberikan tanpa memalui proses pengeringan pakan.
: perut ternak menjadi besar
: Menghubungi dokter hewan terdekat.
|
|
|
| |||||||||
8
|
Manajemen Pengolahan Limbah
| ||||||||||||
|
: padat dan cair
: ditampung, dan suatu saat kotoran/feses ternak dijual ke petani.
|
|
a.-
b. -
|
| |||||||||
9
|
Manajemen Tenaga Kerja
| ||||||||||||
|
: warga setempat yang ikut bergabung dengan KTT Sidodadi.
: laki-laki, 30-50 tahun, sudah berkeluarga
|
|
.
|
| |||||||||
10
|
Manajemen Pemasaran
| ||||||||||||
|
: ternak hidup
: pasar hewan atau belantik datang langsung di peternakan
: tidak ada
: mobil truk
: ketika mendekati hari raya idul adha
: antara 14-17 juta per ekornya
|
|
|
| |||||||||
11
|
Analisis Usaha
| ||||||||||||
|
: Rp 297.750.000 per periode produksi/ 8 bulan
: 0,50
: 51
: Rp 93.680.000,-
: 40,47 %
|
b. Nilai B/C yang diperoleh sebesar 0,50 menunjukkan usaha yang dijalani sudah efisien karena untuk setiap Rp 100,- yang dikeluarkan dalam awal kegiatan usaha peternakan akan diperoleh penerimaan sebesar Rp. 0,50,-
c. Nilai BEP unit sebesar 34 dan BEP harga sebesar Rp.11.662.353 mengindikasikan bahwa usaha tersebut sudah menguntungkan.
d. -
|
d.-
|
d. Return on Investment (ROI) adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan agar menghasilkan keuntungan (Sonia et al, 2014).
| |||||||||
12
|
Evaluasi Usaha
| ||||||||||||
|
: setiap hari
: kesulitan mencari hijauan ketika musim kemarau tiba.
: ternak akan dijual untuk menutup kerugian
|
|
a.-
b. Peternakan harus mempunyai pakan alternatif sebagai pakan tambahan selama musim kemarau, misalnya hay (jerami kering)
c.-
|
c.-
| |||||||||
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, A., M. Aminawar, A. H. Hoddi, dan H. M. Ali, J. A. Syamsu. 2012. Identifikasi kapasitas peternak dalam adopsi teknologi pegembangan sapi potong yang terintegrasi dengan padi.
Abidin, Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka, Jakarta
Ali, Usman, Sumartono, dan Nurul .H. 2012. Pembinaan Masyarakat Tani Peternak Kambing Dan Domba Di Desa Sumbersekar, KecamatanDau, Kabupaten Malan, Universitas Islam Malang, Dedikasi Vol .9 60-66
Bappenas. 2000. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan (Budidaya Ternak Domba). Jakarta.
Balai Penyuluhan Pertanian. 2012. Uji Beberapa Formula Pakan Kering Untuk Penggemukan. Tulungagung Jawa Timur.
Chambers P. G. dan T. Grandin. 2001. Guidelines for Humane Handling, Transport and Slaughter of Livestock, Chapter 6. Food and Agriculture Organization of the United Nations Regional Office for Asia and the Pacific. RAP Publication.
Hadi, P. U. dan N. Ilham. 2002. Problem dan Prospek Pengembangan Usaha Pembibitan Sapi Potong di Indonesia. Jurnal Litbang, Vol. 21 (4): 1-9.
Hanafi, N. D. 2008. Teknologi Pengawetan Pakan Ternak. USU Repository. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Mariyono dan N.H. Krishna. 2009. Pemanfaatan dan keterbatasan hasil ikutan pertanian serta strategi pemberian pakan berbasis limbah pertanian untuk sapi potong. Wartazoa Vol. 19 No. 1.
Misniwati, A. 2004. Analisa usaha penggemukkan kambing potong ditinjau dari sosial-ekonomi. Lokakarya Nasional Kambing Potong, Sumatra Utara.
Pakage, S. 2008. Analisis Pendapatan Peternak Kambing di Kota Malang (Income Analyzing Of Goat Farmer at Malang). Jurnal Ilmu PeternakanVol. 3 (2)Hal: 51 – 57.
Priyanto,L. 2001. Studi Kasus Pemberian Probiotik "S" Terhadap Kasus Kemhung Pada Sapi Fh Di Peternakan Metasari Farm Cimande Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Rismayanti, Y. 2010. Petunjuk Teknis Budidaya Ternak. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat. Departemen Pertanian, Jawa Barat.
Saragih, B. 2004. Pertanian Mandiri. Pandangan Strategis para Pakar untuk Kemajuan Pertanian di Indonesia. Penebar Swadaya.Jakarta.
Sarwono B. 2012. Beternak Kambing Unggul. Penebar Swadaya,Jakarta.
Setiawan, B. S. 2011. Beternak Sapi potong. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Siregar, B. S. 2008. Penggemukan Sapi. Edisi revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, S. B.,2003. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Soekartawi. 2003. Agrisbisnis Teori Dan Aplikasinya. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Soeprapto, H. dan Z. Abidin. 2006. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Sonia, B.R., Zahroh Z., dan D.F. Azizah. 2014. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Vol. 9(1).Hal.1-9.
Sudarmono. A. S., 2008. Sapi Potong.Penebar Swadaya. Jakarta.
Sukmawati. 2010. Perkandangan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian an Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Susilowati, I. 2007. Analisis Profitabilitas pada Usaha Peternakan Sapi Perah di desa Baturejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang. (Skripsi).
Wibowo, S. 2008. Petunjuk Mendirikan Perusahaan Kecil. Penebar Swadaya, Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Contoh Perhitungan BK pakan
Tabel 1. BK Pakan Rumput Lapangan
Bahan Pakan
|
Berat Loyang (g)
|
Sampel Sebelum dioven (g)
|
Loyang dan Sampel setelah oven (g)
|
Pakan Rumput Lapangan 1
|
18,629
|
10,003
|
22,049
|
Pakan Rumput Lapangan 2
|
18.123
|
10,003
|
21,136
|
Sumber : Data Primer Praktikum Manajemen Ternak Potong dan Kerja, 2014
BK = berat setelah oven-berat loyangsampelx 100%
Bk pakan rumput lapangan 1 = 22,049-18,62910,003x 100%
= 34,189%
BK pakan rumput lapangan 2 = 21,136-18,12310,003x 100%
= 30,121%
BK rata-rata pakan = 34,189% + 30,121% 2
=32,155%
Lampiran 2. Perhitungan Kebutuhan BK, PK dan TDN
Tabel 2. Kebutuhan BK, TDN dan PK
Bobot Badan (kg)
|
Pertambahan Bobot Badan (kg)
|
Kebutuhan BK (kg)
|
Kebutuhan TDN (kg)
|
Kebutuhan PK (kg)
|
200
|
0,75
|
5,5
|
3,3
|
0,639
|
230
|
0,75
|
X
|
Y
|
Z
|
250
|
0,75
|
6,5
|
3,9
|
0,644
|
Sumber: Kearl, 1982
Kebutuhan BK
X = PBBH bawah-PBBH atasPBBH ternak-PBBH atas= BK bawah-BK atasX-BK atas
250-200230-200 = 6,5-5,5X-5,5
5030 = 1X-5,5
30 = 50X-275
50X = 305
X = 6,1 kg
Kebutuhan TDN
Y = PBBH bawah-PBBH atasPBBH ternak-PBBH atas= BK bawah-BK atasX-BK atas
250-200230-200 = 3,9-3,3Y-3,3
5030 = 0,6X-3,3
18 = 50X-165
50X = 183
X = 3,66 kg
Kebutuhan PK
Z = PBBH bawah-PBBH atasPBBH ternak-PBBH atas= BK bawah-BK atasZ-BK atas
250-200230-200 = 0,644-0,639Z-0,639
5030 = 0,005Z-0,639
0,15 = 50Z-31,95
50Z = 32,1
Z = 0,642
Lampiran 3. Perbandingan Antara Konsumsi Pakan dan Kebutuhan
Tabel 3. Standar Kandungan BK, TDN dan PK Bahan Pakan
BahanPakan
|
Kandungan BK (%)
|
Dalam 100% BK
| |
Kandungan TDN (%)
|
Kandungan PK (%)
| ||
Rumput Lapangan
|
30,1
|
56
|
2,35
|
Sumber : Kartadisastra, 1997
Tabel 4. Konsumsi Pakan
Pakan
|
BK
(%)
|
Konsumsi BS (kg)
|
Konsumsi BK (kg)
|
Konsumsi TDN (kg)
|
Konsumsi PK (kg)
|
Kadar BK x Konsumsi BS
|
Kadar TDN x Konsumsi BK
|
Kadar PK x Konsumsi BK
| |||
Rumput Lapangan
|
32,155
|
30
|
9,6465
|
1,737026
|
0,0728931
|
Sumber : Data Primer Praktikum Manajemen Feedlot, 2015
Tabel 5. Evaluasi Konsumsi Pakan dengan Kebutuhan
Sampel Sapi
|
BK (kg)
|
TDN (kg)
|
PK (kg)
| ||||||
Kebutuhan
|
Konsumsi
|
Evaluasi
|
Kebutuhan
|
Konsumsi
|
Evaluasi
|
Kebutuhan
|
Konsumsi
|
Evaluasi
| |
230 kg
|
6,1
|
9,6465
|
+3,5465
|
3,66
|
1,737026
|
-1,922974
|
0,642
|
0,0728931
|
-0,5691069
|
Sumber : Data Primer Praktikum Manajemen Feedlot, 2015
Keterangan :
Evaluasi (+) : Konsumsi BK tidak baik, karena melebihi kebutuhan ternak.
Evaluasi (-) : Konsumsi TDN dan PK masih kurang karena belum mencukupi kebutuhan
Lampiran 4. Perhitungan Performa Ternak
Perhitungan Feed Convertion Rate (Konversi Pakan)
PBBH = 0,75 kg/hari
Konsumsi BK total = 9,6465 kg
Konversi pakan = konsumsi BK total PBBH
= 9,6465 0,75
= 12,862
Jadi, ternak membutuhkan pakan sebesar 12,862 kg BK untuk menaikan pertambahan bobot badan sebesar 1 kg.
Efisiensi Pakan
PBBH = 0,75/hari
Konsumsi BK total = 9,6465 kg
Efisensi pakan = PBBH Konsumsi BK Total× 100%
= 0,759,6465× 100%
= 7,77484%
Jadi, ternak mampu menyerap 7,77484% dari 9,6465 kg BK pakan untuk menghasilkan PBBH sebesar 0,75 kg/hari.
Lampiran 4. (lanjutan)
Feed Cost Per Gain
Diketahui :
Konsumsi pakan rumput lapangan = 30 kg
Biaya Pakan/ekor/hari = Rp. 0 (Pekerja pencari rumput tidak digaji)
PBBH = 0,75 kg
Feed Cost Per Gain = (tidak terdapat biaya yang dikeluarkan untuk pembelian pakan hijauan)
= 0 rupiah/ kg
Jadi, biaya yang dikeluarkan untuk menaikkan bobot badan 1 kg sebesar Rp. 0/kg.
Lampiran 6. Analisis Usaha
- Pendapatan produksi
Biaya Investasi
No
|
Jenis Biaya
|
Nilai Nominal (Rp)
|
1
|
Pembuatan kandang
|
200.000.000
|
2
|
Bakalan
|
500.000.000
|
3
|
Peralatan
|
10.000.000
|
Total
|
710.000.000
|
Biaya Variabel
No
|
Jenis Biaya
|
Nilai Nominal (Rp)
|
1
|
Pakan (tidak mengeluarkan biaya)
|
0
|
3
|
Listrik Rp 40.000 x 12
|
480.000
|
4
|
Pajak Bumi Bangunan Rp 50.000/tahun
|
100.000
|
5
|
Transportasi 7000 x 15 x 30 x 8
|
25.200.000
|
Total
|
25.780.000
|
Biaya Tetap ( 8 bulan/ 1 periode produksi)
No
|
Jenis Biaya
|
Nilai Nominal (Rp)
|
1
|
Bakalan 51 ekor
|
561.000.000
|
2
|
Penyusutan kandang per tahun (Rp 200.000.000,- dengan umur ekonomis 4 tahun dan nilai akhir Rp 0
|
7.000.000
|
3
|
Penyusutan peralatan
|
1.000.000
|
Total
|
569.000.000
|
Lampiran 6. (lanjutan)
Total Biaya Produksi
Deskripsi
|
Jumlah (Rp)
| |
Biaya tetap
|
569.000.000
| |
Biaya Variabel
|
25.780.000
| |
Total Biaya
|
594.780.000
| |
Penerimaan
|
Jumlah
|
Total (Rp)
|
Penjualaan sapi (hari idhul adha)
|
51 ekor x Rp 17.500.000,-
|
892.500.000
|
Total
|
892.500.000
|
Penghitungan Pendapatan
Total penerimaan – total biaya produksi = 892.500.000 – 594.780.000 = Rp 297.750.000 per periode produksi/ 8 bulan
Total keuntungan per ekor/hari = Total penerimaan : (Jumlah ternak x lama pemeliharaan) = 297.750.000 : (51 x 240) = Rp.24.326 per ekor/hari
Lampiran 6. (lanjutan)
Break Event Point (BEP)
BEP Unit
|
BEP Harga
|
BEPq=Total Biaya Produksiharga sapi/ekor
|
BEPq=Total Biaya ProduksiJumlah Sapi (ekor)
|
BEPq=594.780.00017.500.000= 34 Ekor
|
BEPq=594.780.00051= Rp 11.662.353-
|
B/C
B/C = Total BenefitTotal Cost
= 297.750.000594.780.000
= 0,50
ROI (Return on Investment)
ROI = Total Keuntungan per TahunBiaya Investasi + Variabel x 100%
= 297.750.000735.780.000 X 100%
= 40,47 %
Lampiran 7. Dokumentasi
Tugas Koreksi
Kebutuhan BK, TDN, dan PK untuk Pakan Ternak
Bobot Badan (Kg)
|
PBBH (Kg)
|
Kebutuhan BK (Kg)
|
Kebutuhan TDN (Kg)
|
Kebutuhan PK (Kg)
|
230
|
0,75
|
6,1
|
3,66
|
0,642
|
Harga Bahan Pakan dan Standar Kandungan BK, TDN, dan PK dalam Bahan Pakan
BahanPakan
|
Kandungan BK (%)
|
Dalam 100% BK
|
Harga (Rp)
| |
Kandungan TDN (%)
|
Kandungan PK (%)
| |||
Rumput Lapangan*
|
30,1
|
56
|
2,35
|
Rp. 0
|
Ampas Tahu**
|
16,2
|
79
|
23,7
|
Rp. 250/kg
|
Bungkil Kedelai***
|
89
|
69
|
49,4
|
Rp. 6500/kg
|
Sumber : *Kartadisastra, 1997.
**Siregar, 1994.
***Agus, 2012.
Perhitungan Kebutuhan TDN dan PK dalam BK
Bobot Badan 230 kg
Kebutuhan PK dalam BK Kebutuhan TDN dalam BK
=
= 
=
= 
= 10,52% = 60%
Penyusunan Ransum
Kebutuhan TDN dalam BK Campuran I
Rumput Lapangan = 1923 x 100% Ampas Tahu = 423 x 100%
= 82,60% = 17,40%
Kebutuhan PK dalam BK Campuran I
Rumput Lapangan = 82,60% x 2,35 = 1,9411
Ampas Tahu = 17,40% x 23,7 = 4,1238
Total = 1,9411 + 4,1238 = 6,065
Kebutuhan TDN dalam BK Campuran II
Rumput Lapangan 56
Bungkil Kedelai 69 4 +
13
Rumput Lapangan = 913 x 100% Bungkil Kedelai = 413 x 100%
= 69,23077% = 30,76923%
Kebutuhan PK dalam BK Campuran II
Rumput Lapangan = 69,23077% x 2,35 = 1,63
Bungkil Kedelai = 30,76923% x 49,4 = 15,2
Total = 1,63 + 15,2 = 16,83
Kebutuhan PK dari Campuran I dan Campuran II
Campuran II 16,83 4,455 +
10,765
Campuran I = 6,3110,765 x 100% Campuran II = 4,45510,765 x 100%
= 58,616% = 41,384%
Komposisi Pakan Bedasarkan Persentase BK
Campuran Pakan
|
Perhitungan Komposisi BK Pakan
| ||
Campuran I
|
Rumput Lapangan
|
82,60 x 58,616%
|
= 48,417 %
|
Ampas Tahu
|
17,40 x 58,616%
|
= 10,199 %
| |
Campuran III
|
Rumput Lapangan
|
69,23077 x 41,384%
|
= 28,650 %
|
Bungkil Kedelai
|
30,76923 x 41,384%
|
= 12,568 %
| |
Total
|
= 99,834 %
| ||
Komposisi pakan berdasarkan BK adalah Rumput Lapangan 77,067%, Ampas Tahu 10,199%, dan Bungkil Kedelai 12,568 %.
Kandungan BK, TDN, dan PK yang Dibutuhkan
Pakan
|
Komposisi (%)
|
Dalam 100% BK
|
Perhitungan BK yang Dibutuhkan
|
Perhitungan Kebutuhan TDN (kg)
|
Perhitungan Kebutuhan PK (kg)
| |
Kandungan TDN (%)
|
Kandungan PK (%)
| |||||
Rumput Lapangan
|
77,067
|
56
|
2,35
|
77,067% x 6,1 = 4,70187
|
56% x 4,70187 = 2,633047
|
2,35% x 4,70187 = 0,110494
|
Ampas Tahu
|
10,199
|
79
|
23,7
|
10,199% x 6,1 = 0,62214
|
79% x 0,62214 = 0,49149
|
23,7% x 0,62214 = 0,1474472
|
Bungkil Kedelai
|
12,568
|
69
|
49,4
|
12,568% x 6,1 = 0,76665
|
69% x 0,76665 = 0,52899
|
49,4% x 0,76665 = 0,3787251
|
Total
|
99,834
|
6,1
|
3,653527
|
0,6366663
| ||
Kebutuhan
|
6,1
|
3,66
|
0,642
| |||
Koreksi
|
0
|
-0,006473
|
-0,0053337
| |||
Konsumsi BK, TDN, dan PK sudah baik karena sudah memenuhi kebutuhan ternak untuk memperoleh PBBH 0,75 kg.
Kebutuhan Pakan Segar dan Biaya Pakan
BahanPakan
|
Kandungan BK (%)
|
BK yang dibutuhkan (kg)
|
Perhitungan Kebutuhan Pakan Segar (kg)
|
Biaya Pakan
| ||
Rumput Lapangan
|
30,1
|
4,70187
|
(4,70187 x 100)/30,1
|
= 15,621
|
15,621 x Rp. 0
|
= Rp. 0
|
Ampas Tahu
|
16,2
|
0,62214
|
(0,62214 x 100)/16,2
|
= 3,840
|
3,840 x Rp. 250
|
= Rp. 960
|
Bungkil Kedelai
|
89
|
0,76665
|
(0,76665 x 100)/89
|
= 0,861
|
0,861 x Rp. 6500
|
= Rp. 5.596,5
|
Total
|
Rp. 6.556,5
| |||||
Jadi untuk mendapatkan PBBH 0,75 kg tiap ekor sapi dibutuhkan biaya pakan ternak sebesar Rp. 6.556,5
Comments
Post a Comment
Terima kasih sudah berkomentar,semoga bermanfaat