- IDENTIFIKASI DAN PENGENALAN BAHAN PAKAN
- PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Ternak-ternak dipelihara untuk dimanfaatkan tenaga/diambil hasilnya dengan cara mengembangbiakkannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan para peternak. Agar ternak peliharaan tumbuh sehat dan kuat, sangat diperlukan pemberian pakan. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. Pakan yang sering diberikan pada ternak kerja antara lain berupa: hijauan dan konsentrat (makanan penguat).
Oleh karena hal tersebut, para peternak harus bisa jeli di dalam menentukan bahan pakan apa yang sekiranya bisa diberikan pada ternaknya. Di dalam menentukan bahan pakan, selain jumlah nutrisi yang ada di dalamnya juga harus mempertimbangkan harga dari bahan pakan tersebut supaya di dalam usaha peternakannya tersebut tidak mengalami kerugian.
- Tujuan
- Menghindari pemalsuan bahan pakan
- Menghindari kerusakan bahan pakan
- Waktu dan tempat
Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum ini dilaksanakan pada tanggal 28,30 April 2009 dan tanggal 1,5,8 Mei 2009 dan bertempat di laboraturium Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan Peternakan,Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
- TINJAUAN PUSTAKA
1. Bahan Pakan Hijauan
Hijauan umumnya terdiri dari dari berbagai jenis rumput liar, limbah dan hasil ikutan pertanian, rumput jenis unggul yang dibudidayakan dan berbagai jenis leguminosa. Hijauan tersebut merupakan bahan pakan yang kandungan serat kasarnya relatif tinggi. Pakan hijauan yang sudah tua mengandung serat kasar yang tinggi. Hal ini menunjukkan hijauan yang tua tersebut kurang bermutu. Hijauan yang bermutu baik adalah yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Kandungan protein leguminosa lebih dari 20%, sedangkan rumput kurang dari 10%. Oleh karena itu, kombinasi keduanya merupakan bahan pakan yang bermutu (Sugeng dan Sudarmono, 2008).
Hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hijauan yang diberikan dalam bentuk segar. Termasuk hijauan segar ialah rumput segar, leguminosa segar dan silage. Hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja dikeringkan (hay) ataupun jerami kering (AAK, 1983).
Makanan kasar ialah bahan makanan yang mempunyai kadar serat kasar yang tinggi. Bahan ini umumnya terdiri dari makanan huijauan yang berupa rumput atau leguminosa dalam bentuk yang masih segar ataupun yang telah diawetkan seperti silage atau hay (AAK, 2008).
Potensi fisik jerami yang sangat besar belum sepenuhnya dimanfaatkan. Pemanfaatan jerami sebagian besar dibakar (37%) untuk pupuk, dijadikan alas kandang (36%) yang kemudian dijadikan kompos dan hanya sekitar 15% sampai 22% yang digunakan sebagai pakan ternak. Kendala utama penggunaan jerami sebagai bahan pakan ternak adalah kecernaan (45-50%) dan protein (3-5%) yang rendah. Jerami sebagai limbah tanaman tua, jaringannnya telah mengalami lignifikasi tingkat lanjut dan tingginya kandungan silikat (Anonim, 2009).
Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman bijibijian / jenis kacang-kacangan (Anonim, 2009).
2. Bahan Pakan Sumber Energi
Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi utama. Zat karbohidrat ini bias berupa gula, pati atau serat kasar. Makanan berbutir dan ubi-ubian banyak mengandung gula dan pati. Hijauan merupakan sumber karbohidrat, apalagi makanan penguat seperti jagung dan sorghum (Sugeng, 2000).
Umbi-umbian tumbuh banyak di daerah tropis yang basah dan bermusim. Umbi-umbian yang paling banyak di daerah tropis adalah ketela pohon, ubi, ketela ranbat, talas dan garut, mempunyai nilai kandungan tenaga dalam bahan kering yang tinggi (Williamson dan Payne, 1993).
Bekatul biasanya bercampur pecahan-pecahan halus dari menir dan lebih sedikit mengandung kulit dan selaput putih serta berwarna agak kecoklatan (Lubis, 1963). Bekatul mendekati analisa dedak lunteh, tetapi sedikit mengandung selaput putih dan bahan kulit. Susunan zat makanannya sebagai berikut : 15 % air; 14,5 % protein; 48,7 % BETN; 7,4 % serat kasar; 7,4 % lemak dan 7% abu, kadar protein dapat dicerna 10,8 %dan MP 70 % (Anggorodi, 1985).
Bahan pakan sumber energi mengandung karbohidrat relatif lebih tinggi dibandingkan zat – zat makanan lainnya. Kandungan protein sekitar 10% (Suprijatna, 2005). Bahan pakan sumber energi bukan merupakan sumber zat makanan tetapi energi yang dihasilkan dari proses metabolis zat makanan organik yang terdiri karbohidrat, lemak dan protei (Wahju, 1997).
Pakan sumber energi memiliki kandungan protein kasar < 20%, serat kasar < 18%. Dalam karbohidrat dan protein menghasilkan nilai energi yang relatif sama yaitu kurang lebih dari 4 kkal/gram, sedangkan lemak menghasilkan 2,25 kali lebih besar yaitu kurang lebih 9 kkal/gram. Sumber bahan energi yaitu jagung kuning, sorghum, tapioka, beras, bekatul, dan lainnya (Wahyu dan jojo 1988).
3. Bahan Pakan Sumber Protein
Tepung bulu adalah tepung bulu ayam yang telah mengalami proses hidrolisis dengan jalan pengukusan pada suhu dan tekanan yang tinggi. Tepung bulu mengandung protein yang cukup tinggi yaitu sebasar 75-80% dengan nilai kecernaan protein di atas 75% bila proses pembuatannya baik (Kamal, 1998)
Bungkil kedelai merupakan bahan makanan yanbg dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan ternak, meskipun bungkil kedelai tersebut sudah diambil minyaknya tetapi masih menyimpan protein nabati sebesar kurang lebih 40% (Rasyaf, 2001).
Bungkil kelapa merupakan sumber lemak yang baik untuk unggas serta mengandung protein. Bungkil kelapa selain mudah didapat harganya juga murah. Pemberian bungkil kelapa untuk komposisi ransum maksimal sebesar 10 – 15%. Bungkil kelapa selain sebagai sumber asam lemak juga sebagai sumber Ca dan P meskipun kandungannya sedikit (Hardjosworo, 2000). Penggunaan bungkil kelapa seharusnya tidak lebih dari 20 % karena penggunaan yang berlebihan harus diimbangi dengan penambahan metionin dan lisin (tepung ikan) serta lemak dalam ransum. Kandungan protein dalam bungkil kelapa cukup tinggi yaitu 18 % , sedangkan nilai gizinya dibatasi oleh tidak tersedianya dan ketidakseimbangan asam amino (Rasyaf, 1991).
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman).Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal dan sentero.
c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya) (Anonim, 2009).
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal dan sentero.
c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya) (Anonim, 2009).
Bungkil kedelai merupakan sumber protein yang cukup tinggi terutama untuk protein kasarnya, sehingga kurang baik jika diberikan terlalu banyak (Rasyaf, 1991). Kedelai mentah mengandung beberapa penghambat tripsin. Penghambat tripsin ini (antitripsin) tidak tahan panas, sehingga bungkil kedelai yang mengalami proses pemanasan terlebih dahulu tidak menjadi masalah dalam penyusunan ransum untuk unggas. Kualitas bungkil kedelai ditentukan oleh cara pengolahan. Pemanasan yang terlalu lama dapat merusak kadar lisin (Wahju.1997).
4. Bahan Pakan Sumber Mineral
Bahan pakan sumber mineral umumnya terdapat pada pakan berbutir dan hasil ikutannya serta hijauan. Pakan berbutir kaya akan unsur P, sedangkan hijauan kaya Ca, tetapi unsure P- nya kurang, kecuali hijauan jenis leguminosa. Tepung tulang kaya akan Ca dan P, sedangkan kapur (giling) merupakan sumber Ca yang paling bagus dan harganya pun murah (Sugeng dan Sudarmono, 2008).
Feed supplemen mineral lainnya adalah bahan makanan yang memiliki zat mineral seperti bahan makanan yang terdapat dalam jenis makanan yang menyimpan unsur zat Mg (Magnesium) yaitu: jenis kacang- kacangan (Hartono, 1995).
Salah satu jenis batu kapur yang disebut batu bintang ( watu lintang) adalah salah satu sumber mineral Ca yang baik yang sering digunakan di dalam ransum ternak. Batu kapur yang baik hampir murni tersusun dari kalsium karbonat (CaLO3) yang mengandung 36 sampai 38% Ca (Kamal, 1998).
5. Bahan Pakan Sumber Vitamin
Vitamin A dibentuk dari pro vitamin A (karoten). Warna kuning pada umbi-umbian dan butir-butiran hijau sebagai provitamin A, oleh dinding usus halus diubah menjadi vitamin A. Apabila sebagian besar daun pada hiajauan masih berwarna hijau, berarti provitamin-A nya masih tetap bertahan. Hijauan yang dipanen pada saat masih muda, provitamin A-nya lebih tinggi dibandingkan dengan hijauan yang tua (Sugeng dan Sudarmono, 2003).
Vitamin B12 dibutuhkan untuk merangsang proses pertumbuhan, meningkatkan daya tetas, meningkatkan resistan embrio dan membantu pembentukan sel darah merah. Sumber vitamin B12 terdapat pada tepung ikan (Hartono, 1995).
Vitamin K banyak terdapat pada berbagai bagian tanaman hijau. Sejumlah senyawa mempunyai aktivitas seperti vitamin K, dan yang digunakan sebagai standar normal adalah yang disebut menadion. Ada tersedia beberapa derivat larut air yang berbeda yang diperdagangkan sebagai sumber vitamin K. Dua di antaranya yang umum digunakan adalah meradion sodium bisulfite dan menadion dimethilpyrimedinol bisulfite (Kamal,1998).
Vitamin D berguna untuk metabolisme dan mengatur keseimbangan unsur Ca dan P dalam tubuh, lebih- lebih untuk pembentukan tulang. Vitamin D di dalam tubuh dibentuk dengan bantuan sinar matahari. Di mana di bawah kulit terdapat provitamin D yang apabila kena sinar pagi akan terbentuk vitamin D (Sugeng, 2000).
6. Feed Additif
Penggunaan antibiotika dalam usaha peternakan ayam dewasa ini semakin populer. Penggunaan antibiotika dirasakan mempunyai peranan penting dalam merangsang pertunbuhan ayam dan sekaligus memperbaiki efisiensi dalam penggunaan makanan. Penggunaan euramian, telah terbukti sanggup memperbaiki pertumbuhan ayam rata-rata sebesar enam persen, efisiensi makanan sebesar tiga persen dan kasus penyakit berak darah berkurang tiga persen sampai enam persen (Mutidjo, 1992).
Hormon oestrogen sintesis seperti stiboestrol memiliki peranan perangsang pertumbuhan, sedangkan thyroxine dapat merangsang pertumbuhan dan produksi susu dan wol. Hormon dapat dimasukkan kepada ternak baik melalui mulut atau implantasi di bawah kulit. Dengan implantasi, pelet ditempatkan pada pangkal telinga ternak ruminansia, dan di leher pada komponisasi kimia ayam jantan muda (Williamson dan Payne, 1993).
Masih ada sejumlah bahan makanan tambahan seperti “ nitrovin” yaitu suatu devirat guanidin dan senyawa quinoxaline, yang nampaknya meningkkan laju pertumbuhan beberapa klas ternak. Koksidiostat yang digunakan pada makanan unggas dan obat-obatan yang digunakan dalam pengobatan histomoniasis pada kalkun juga bekerja sebagai perangsang pertumbuhan (Hartono, 1995).
Ternak sering terserang oleh berbagai macam penyakit, baik yang berupa parasit luar (ecto-parasite) maupun parasit dalam (endo-parasit). Untuk mencegah timbulnya penyakit akibat teraserang koksida (koksidosis) dapat digunakan berbagai macam koksidiostat. Salah satu koksidiostat yang sangat efektif adalah sulfaquinoxalin. Di sampinng diberikan sebagai aditif pakan juga dapat diberikan bersama air minum (Kamal, 1998).
- MATERI DAN METODE
- Materi
- sampel bahan pakan
- cawan petri
- sendok
- tabel kandungan nutrien bahan pakan
- Metode
- Mengambil dengan menggunakan sendok contoh bahan pakan dan memasukkannya ke dalam cawan petri.
- Mengamati dengan panca indera.
- Mengidentifikasi setiap bahan yang disediakan.
- Membuat hasil pengamatan dalam tabel hasil praktikum.
- Menyimpulkan hasil pengamatan yang telah dilakukan.
D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
1. Bahan Pakan Hijauan
- Graminae
a.1. Hasil Pengamatan
Tabel 1.1 Hasil Pengamatan Hijauan Graminae
No
|
Nama Bahan Pakan
|
Hasil Pengamatan
|
Kesimpulan
|
1
|
Rumput Raja
Pennisitum Hibrida
|
|
Pakan Kelas 2: hijauan segar (graminae)
BK:
EE:
SK:
TDN:
PK:
|
2
|
Rumput Gajah
Pennisitum Purpureum
|
|
Pakan Kelas 2: hijauan segar (graminae)
BK: 92 %
EE: 4, 24 %
SK: 40, 82 %
PK: 10, 79 %
TDN: 49, 9 %
|
3
|
Rumput Belulang
Eleusin Indica
|
|
Pakan Kelas 2: hijauan segar (graminae)
BK:
EE:
SK:
TDN:
PK:
|
Sumber Laporan Sementara
a. 2. Pembahasan
Rumput adalah tanaman yang banyak digunakan sebagai pakanan ternak.Hal tersebut dikarenakan rumput banyak memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan tanaman pakan ternak yang lain yaitu diantaranya:
- Sebagian besar rumput adalah palatabel bila umur belum tua.
- Hanya sedikit yang bersifat toksik.
- Kemampuan tumbuh baik, sehingga tenak ruminansia dapat mempertahankan hidup.
Akan tetapi rumput juga masih mempunyai kekurangan yaitu diantaranya:
- Kandungan air sangat tinggi.
- Bagi ternak ruminansia menyebabkan kelebihan protein.
- Dapat menyebabkan mencret.
- Kandungan bahan kering rendah berakibat sukarnya penuhi energi secara maksimal.
Rumput Raja atau Pennisetum Hibrida adalah salah satu dari sekian banyak jenis rumput yang digunakan para peternak untuk pakan teraknya. Rumput raja adalah persilangan antara Pennisetum Purpureum dengan Pennisetum Typoides. Adapun ciri- ciri dari rumput raja diantaranya adalah sebagai berikut:
- tinggi dua sampai empat sentimeter
- panjang daun tujuh puluh sampai dengan seratus sentimeter
- lebar daun tiga sampai enam sentimeter
- batang tebal
- daun agak kesar
- defoliasi enam minggu
- berkembang biak dengan stek
- kandungan protein kasar 11, 02 %.
Selain rumput raja, rumput yang juga banyak digunakan untuk pakan ternak adalah rumput gajah atau dengan bahasa latin Penisetum Purpureum dengan ciri- ciri diantaranya batang tebal dan keras, tumbuh setinggi 3- 4,5 meter, berkembang dengan stek, sobekan rumpun, masa efoliasi 6-8 minggu, produksi 150-200 ton/ha/tahun, analisa bahan kering 92%, TDN 49,9%, SK 40,82%, EE 4,24%, PK 10,79%.
Perlu perhatian khusus untuk penanaman rumput ini yaitu apabila musim kemarau tiba rumput gajah paling banyak ditanam karena muah baradaptasi dengan tanah buruk.
Rumput Belulang (Fleusin Indica) adalah sejenis tanaman gulma atau tanaman pengganggu. Oleh karena itu perlu dimanfaatkan sebagai pakan agar tidak tetap menjadi pengganggu. Pemberian rumput ini pada ternak cukup mudah, yaitu hanya dengan melepaskan ternak ke padang rumput yang tingginya sekitar 15 cm itu. Akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan nutrient ternak tidaklah cukup dengan hanya menghandalkan rumput belulang ini sehingga perlu adanya pakan tambahan yang mencukupi kebutuhan nutrient ternak tersebut.
- Legume
b.1. Hasil Pengamatan
Tabel 1.2 Pengamatan Hijauan Legume
No
|
Nama Bahan Pakan
|
Hasil Pengamatan
|
Kesimpulan
|
1.
|
Daun Gamal
Glirisida Sepium
|
Warna daun: hijau
Tulang daun: menyirip
Bentuk daun: Elip
Tipe daun: inparipinate
Batang: berkayu
|
Pakan kelas 2: hijauan segar (legume)
BK:91,2%
TDN: 50,55%
SK: 49,68%
EE:1,63%
PK: 10,17%
|
2.
|
Daun Turi
Sesbania Glandiflora
|
Warna daun: hijau
Tulang daun: menyirip
Bentuk daun: lonjong
Tipe daun: paripinate
Batang: berkayu
|
Pakan kelas 2: hijauan segar (legume)
BK:91,1%
TDN: 48,20%
SK: 40,42%
EE:5,22%
PK: 25,99%
|
3.
|
Daun Lamtoro
Leucena Leucocephal
|
Warna daun: hijau
Tulang daun: menyirip
Bentuk daun: Elip
Tipe daun: paripinate
Batang: berkayu
|
Pakan kelas 2: hijauan segar (legume)
BK:100%
Abu: 8,3%
SK: 14,4%
EE:6,2%
PK: 24,3%
|
4.
|
Daun Kacang Kupu
Centrocema Pubescens
|
Warna daun: hijau
Tulang daun: sejajar
Bentuk daun: oval
Tipe daun: trivoleat
Batang: menjalar
|
Pakan kelas 2: hijauan segar (legume)
BK:100%
Abu: 8,8%
SK: 31,2%
EE:3,6%
PK: 22%
|
5
|
Daun Kacang Panjang
Vigna Sinensis
|
Warna daun: hijau
Tulang daun: sejajar
Bentuk daun: Trivoleat
Tipe daun: Piramid
Batang: menjalar
|
Pakan kelas 2: hijauan segar (legume)
|
Sumber: Hasil Pengamatan
b.2. Pembahasan
Gamal merupakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah tropis, dapat hidup dengan segala kondisi tanah tapi tidak tahan pada air tergenang. Fungsi tanaman selain sebagai pakan, tanaman pagar, tanaman pelindung, dsb, juga sebagai penahan erosi. Tanaman ini belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pakan karena belum terbiasa dengan baunya yang kurang disukai ternak. Untuk membiasakan dapat diberi sedikit demi sedikit atau dengan perlahan.
Turi (Sesbania Glandiflora) termasuk tanaman yang berpotensi menyediakan hijauan makanan ternak yang berkualitas baik. Penambahan daun turi segar dapat memberi koefisien cerna semua zat makanan bila dibanding tanpa penambahan turi. Karena disebabkan tinggi nilai makanan hijauan daun turi. Penambahan daun turi dengan rumput gajah sebanyak 0,5, 1, dan 2 kg dapat meningkatkan bobot badan ternak domba masing-masing sebesar 57, 63, dan 93 g/ ekor/ hari.
Daun Lamtoro (Leucena Leucocephal) telah lama dikenal dengan nama kemlandingan, petai cina, dll. Tanaman ini telah lama digunakan sebagai tanaman peneduh dan sebagai makanan ternak. Panen pertama setelah tanaman berumur 6-9 bulan dan pemotongan 3-4 bulan dengan tinggi pemotongan 1-1,5m.
Daun kacang kupu (Centrocema Pubescens) termasuk golongan bahan pakan kelas 2, pakan hijauan segar jenis Legume.
Daun kacang panjang (Vigna Sinensis leaves) tanaman ini dimanfaatkan dan diberikan ke ternak dengan skala kecil dengan tujuan memberi variasi pakan ternak. Tanaman ini tergolong pakan kelas 2, hijauan segar jenis legume karena mengandung kandungan protein cukup baik untuk pertumbuhan.
- Rambanan
c.1 Hasil pengamatan
Tabel 1.3 Hasil pengamatan hijauan rambanan
no
|
Nama bahan pakar
|
Hasil pengamatan
|
kesimpulan
|
Daun ubi
|
Warna daun :
Hijau
Tulang daun:
Menjari
Nbentuk daun:
Batang :
menjalar
|
Pakar kelas
2-hijauan segar (rambanan)
| |
2
|
Daun nangka
Artocorpus integro
|
Warna daun
Hijau
Tulang daun
Menyirip
Bentuk daun
Oval
Batang:
berkayu
|
Pakar kelas 2
Hijauan segar (rambanan)
Bk:100%
Abo:25%
EE:4%
SK:20%
PK:12,%
|
3
|
Marihot utilisima
|
Warna hijau:
Hijau
Tulang daun:
Sejajar
Tipe daun:
Menjari
Bentuk daun:
Oual memanjang
Batang:
Berkayu gabus
|
Pakar kelas 2
Hijauan segar (rambanan)
BK:100%
EE:7,4% SK:22,9% BU:45,5% PK:17,3% |
Sumber hasil pengamatan
c.2. pembahasan
Selain forage rumput dan forase legume,adajuga forase lain uang berupa hijauan berbagai sayur-sayuranbaik hasil sisa / sudah tidak digunakan untuk pangan atau dinamakan rambanan.contoh salah satunya adalah daun singkong(manihot utilisima)tanaman sejanis cassava,atau benalu t6ak bercabang atau bercabang 2 tinggi mencapai 4m.bergetah putih dan mengandung surida pada konsentrasi yang berbeda.selain di manfaat kan untuk pangan ,tanaman ini juga sudah dimanfaatkan menjadi pakar walau hasil yang akan diperoleh berasal dari sisa bahan pangan.
2. Bahan Pakan Penyusun Konsentrat
- Bahan Pakan Sumber Energi
a.1. Hasil Pengamatan
No
|
Nama Bahan Pakan
|
Hasil Pengamatan
|
Kesimpulan
|
1.
|
Biji Lamtoro
|
Warna Coklat tua
Tekstur: biji pipih
Bau Tengik
Rasa Getir
BK:29%
PK:6,8%
Abu: 2,4%
EE: 1,3%
SK: 6,2%
|
Sumber Energi
|
2.
|
Dedak Padi
|
Warna Coklat muda
Tekstur: serbuk
Bau apek
Rasa tawar
BK:86,8%
PK:11,9%
Abu: 10,1%
EE: 12,1%
SK: 10,0%
|
Sumber Energi
|
3.
|
Dedak Jagung
|
Warna Coklat Tua
Tekstur: kasar
Bau apek
BK:86%
PK:9,7%
Abu: 2%
EE: 6,4%
SK: 4,3%
|
Sumber Energi
|
4.
|
Tepung Jagung
|
Warna kuning
Tekstur: kasar
Bau harum
Rasa tawar
BK:100%
PK:10,3%
Abu: 2%
EE: 4,7%
SK: 2,5%
|
Sumber Energi
|
5.
|
Tepung Gaplek
|
Warna Krem
Tekstur: lembut
Bau apek
Rasa tawar
BK:100%
PK:3,3%
Abu: 3,3%
EE: 0,7%
SK: 5,3%
|
Sumber Energi
|
6.
|
Tepung daun singkong
|
Warna hijau gelap
Tekstur: halus
Bau apek
Rasa tawar
BK:100%
PK:20%
Abu: 3,3%
EE: 3,8%
SK: 21,2%
|
Sumber Energi
|
7.
|
Ampas tahu fermentasi
|
Warna krem
Tekstur: lembut
Bau apek
Rasa tawar
BK:
PK:
Abu:
EE:
SK:
|
Sumber Energi
|
8.
|
Bekatul
|
Warna krem muda
Tekstur: agak kasar
Bau apek
BK:86%
PK: 12%
Abu: 7,7%
EE: 10,7%
SK: 5,2%
|
Sumber Energi
|
9.
|
Corn gluten meal
|
Warna kuning kecoklatan
Tekstur: lembut
Bau apek menyengat
BK:
PK:
Abu:
EE:
SK:
|
Sumber Energi
|
10.
|
Polard
|
Warna Coklat muda
Tekstur: sedikit kasar
Bau apek
BK:86%
PK:16,1%
Abu: 4,1%
EE: 45,0%
SK: 6,6%
|
Sumber Energi
|
11.
|
Pati aren
|
Warna Coklat tua
Tekstur: kasar
Bau apek
Rasa tawar
BK:
PK:
Abu:
EE:
SK:
|
Sumber Energi
|
12.
|
Tepung onggok
|
Warna Coklat muda
Tekstur: kasar
Bau apek
Rasa tawar
BK:
PK:
Abu:
EE:
SK:
|
Sumber Energi
|
13.
|
Konsentrat komplit
|
Warna Coklat
Tekstur: kasar
Bau tengik
Rasa asin
BK:
PK:
Abu:
EE:
SK:
|
Sumber Energi
|
14.
|
Kulit kopi
|
Warna Coklat
Tekstur: kasar
Bau apek
BK:
PK:
Abu:
EE:
SK:
|
Sumber Energi
|
Sumber: Laporan Sementara
a.2. Pembahasan
Biji lamtoro berwarna coklat tua, tekstur biji pipih, dengan bau tengik dan rasa getir. BK biji lamtoro 29%, PK6,8%, Abu 2,4%, EE 1,3% dan SK 6,2%.
Biji lamtoro termasuk pakan ternak yang mempunyai kandungan nutrisi di antaranya protein anatara 30-40%, lemak 6,13%, seddangkan kadar salah satu jenis alkaloid yaitu memosin kadarnya sangat rendah, maka tidak menyebabkan gangguan pada hewan ternak (Suprayitno, 1981).
Dedak padi berwarna coklat muda. Dengan tekstur serbuk, bau apek dan rasanya tawar. Kandugan BK 86,8%, PK 11,9%, SK 10,0%, abu 10,1% dan EE 12,1%.
Bila dedak ini digunakan dalam ransum ungggas, harus dicegah terhadap kemungkinan terjadinya ketengikan autooksidatif karena bisa mengakibatkan penyakit encephalomalacia pada anak ayam. Pemakaian dedak pada dalam jumlah banyak dalam ransum, akan terjad kekurangan isoleusin dan treonin yang gejala- gejalanya sama dengan kekurangan lisin (Wahyu, 1998)).
Dedak jagung berwarna coklat tua, tektur kasar sedikit dan berbau apek. Dengan BK 86%, PK 9,7%, SK 4,3% dan EE 6,4%.
Dedak jagung merupakan bulir bersama lenbaga dari proses awal pembuatan beras jagung.
Jagung merupakan sumber energi utama dalam ransum aneka ternak unggas (Anggorodi, 1995).
Jagung kuning selain mengandung karoten, juga menjadi sumber energi dalam ransum. Jagung mempunyai kadar triptofan yang rendah. Yng paling rendah adalah kadar metioninnya, kemudian lisin (Wahyu, 1988).
Tepung jagung berwarna kuning, tekstur kasar, bau harum dan rasanya tawar. Dengan kandungan BK 100%, PK 10,3%, SK 2,5%, abu 2%, EE 4,7%.
Tepung jagung terbuat dari biji jagung. Di dalam biji jagung tersebut terdapat banyakkarbohidrat. Sebagian besar beradu pada endospermium. Kandungan karbohidratdapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji (Anonim, 2008).
Tepung gaplek berwarna krem, tekstur lembut, bau apek dan rasanya tawar. Dengan kandungan BK 100%, PK 3,3%, SK 5,3%, abu 3,3%EE 0,7%.
Gaplek adalah umbi ubi kayu yang telah dkupas kulitnya dan telah dikeringkan. Salah satu tujuan dari pengeringan adalah agar umbi ubi kayu apat disimpan dalam waktu yang cukup lama, mudah penanganannya dan mengurangi atau menghilangkan kandungan glukosa (linamarin) yang dapat menghasilkan HCN oleh adanya aktivitas enzim tertentu. Gaplek dapat digunakan sebagai bahan pakan sumber energi untuk berbagai jenis ternak. Dan salah satu pemberiannya dapat dalam bentuk tepung (Kamal, 1998).
Tepung daun singkong berwarna hijau gelap, tekstur hakus dan berbau apek. Kandungan yang ada di dalamnya adalah BK 100%, pk 20%, SK 21,2%, Abu 10,8%, EE 21,2 % dan BN 44,2%.
Ampas tahu fermentasi berwarna krem, tekstur lembut dan bau apek. Ampas tahu fermentasi dapat meningkatkan kualitas pakan dan memacu pertumbuhan ayam pedaging. Proses fermentasi menggunakan ragi yang mengandung kapang Rhizopus Digosporus dan Rizopus Oryzae. Proses fermentasi akan menyederhanakan partikel bahan pakan, sehingga akan meningkatkan nilai gizinya. Bahan pakan yang telah mengalami fermentasi akan lebih baik kualiasnya dari bahan bakunya. Fermentasi ampas tahu dengan ragi akan mengubah protein menjadi asam-asam amino, dan secara tidak langsung akan menurunkan kadar serat kasar ampas tahu (Anonim, 2008).
Bekatul berwarna krem muda, tekstur lembut agak kasar, dan bau tidak menyengat. Dengan kandungan BK 86%, abu 7,7%,EE 10,7%, SK 5,2% dan PK 12%.
Bekatul merupakan hasil samping dari proses penyosohan beras pecah kulit. Bekatul tersusun dari lapisan luar beras pecah kulit, pati dan mata beras. Bekatul cukup tinggi kandungan minyaknya, sehingga mudah mengalami ketengikannya. Untuk menghindari ketengikan pada bekatul dapat dilakukan dengan jalan pemanasan atau pengeringan segera setelah bekatul diperoleh dari proses penggilingan gabah. Terjadinya ketengikan tersebut adalah akbat rusaknya enzim lipolitik (lipase) yang terdapat pada bekatul (Kamal, 1998).
Corn Gluten Meal berwarna kuning kecoklatan, tekstur lembut dan bau apek menyengat.
Corn Gluten Meal merupakan salah satu hasil samping dari pembuatan pati jagung (pati mayzena) dan sebagai bahan pakan merupakan konsentrat protein yang kandungan proteinnya cukup tinggi yaitu di atas kandungan protein bungkil kedelai (Kamal, 1998).
Polard berwarna coklat muda, tekstur sedikit kasar dan berbau apek. Kandungan BK 86%, PK16,1%, SK 6,6%, abu 4,1% dan EE 45%.
Penggunaan polard di dalam ransum sering dibatasi kearena mempunyai bobot ringan perunit(buky), namun demikian ckup palatabelbagi semua jenis ternak. Di samping sebagai sumber energi, polard juga sebagai sumber vilatin larut air kecuali niasin (Kamal, 1998).
Pati aren berwarna coklat tua, tekstur kasar dan berbau apek.
Untuk menghasilkan pati aren yang baik dibutuhkan proses pembuatan yang panjang. Mula- mula batang aren dipotong- potong sepanjang satu meter, lalu dibelah menjadi empat sampai enam bagian. Bagian kayu luar yang keras dibuang dan bagian dalamnya diparut dengan mesin. Hasil parutan kayu kemudian diperas sarinya, dimasukkan ke dalam bak penampungan. Setelah tiga jam didiamkan menghasilkan endapan. Endapan inilah yang selanjutnya akan diolah menjadi pati aren. Caranya disaring lagi dengan saringan mesin, diendapkan satu malam dan dijemur sehari (Anonim, 2008).
Konsentrat komplit berwarna coklat, tekstur kasar, bau tengik dan rasa asin.
Konsentrat merupakan campuran bahan yang mempunyai kandungan serat kasar rendah dan mempunyai kandungan nutrien seperti protein atau energi, lemak tinggi dan mudah dicerna. Bahan tersebut dapat dapat berupa dedak, bekatul, bungkil kelapa, bungkil kacang, bungkil kedelai atau bahan- bahan sisa dalam proses biji-bijian. Bahan ini dicampur dengan baik sehingga kandungan nutrien yang ada di dalamnya dapat memenuhi kekurangan nutrien yang dibutuhkan.
Tepung onggok berwarna coklat muda, tekstur kasar dan berbau apek.
Dalam pembuatan tapioka (pati umbi ubi kayu) dihasilkan ampas yang disebut onggok. Walaupun onggok merupakan ampas dari pembuatan tapioka, namun kenyataanya masih cukup baik untuk digunakan sebagai bahan pakan sumber energi terutama bagi ternak ruminansia. Hal ini disebabkan masih cukup tingginya kandungan karbohidrat yang mudah larut (Ekstrak Tanpa Nitrogen / ETN ) yang berupa pati. Onggok sebagai bahan pakan pada umumnya disimpan dalam keadaan kering dan diberikan kepada ternak dalam bentuk tepung kasar atau giling kasar (Kamal, 1998).
Kulit kopi berwarna coklat, tekstur kasar berbau apek.
Kulit kopi yang diolah melalui prses fermentasi kandungan gizinya mencapai 12,5 %. Hal ini membuktikan bahwa kandungannya lebih tinggi daripada kandungan dedak atau bekatul. Limbah kopi ini mampu membuat pertumbuhan ternak kambing menjadi lebih cepat bongsor. Dengan diberi pakan limbah sebesar 100 gram per ekor setiap harinya, berat badan seekor ternak bertambah 95 – 100gram perhari (Anonim, 2008).
b. Bahan Pakan Sumber Protein
b.1 Hasil Pengamatan
No
|
Nama Bahan Pakan
|
Hasil Pengamatan
|
Kesimpulan
|
1.
|
Bungkil Kedelai
|
Warna kuning krem
Tekstur agak kasar
Bau tidak menyengat
SK: 6,5%
KA : 12%
PK: 50%
Abu: 7%
Lemak: 3,5%
TDN:80%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
2.
|
Bungkil Wijen
|
Warna coklat tua
Tekstur kasar
Bau tengik
SK:
BK:
PK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
3.
|
Bungkil kelapa
|
Warna coklat gelap
Tekstur kasar mennnggumpal
Bau tengik
EK: 90,2%
SK: 12,78%
PK: 221,21%
TDN: 78,99%
Abu: 8,14%
EE: 8,89%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
4.
|
Bungkil Klenteng
|
Warna hitam
Tekstur kasar
Bau tengik
BK: 86%
PK: 27,3%
SK:20,6%
Abu: 6,8%
EE: 8,6%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
5.
|
Bungkil kacang hijau
|
Wrna coklat tua ada warna hitamnya
Tekstur kasar
Bau tengik
BK:
PK:
SK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
6.
|
Bungkil Kelapa sawit
|
Warna hitam kecoklatan
Tekstur halus
Bau tengik
BK: 89,3%
SK: 30,41%
PK:18,16%
EE:4,02%
Abu:5,96%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
7.
|
Biji kacang panjang
|
Warna hitam
Tekstur butiran
Bau apek
BK:86%
SK: 19,12%
Abu: 8,3%
PK: 12,21%
ME: 1, 97%
BETN: 43,3%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
8.
|
Biji kapuk
|
Warna hitam
Tekstur butiran
Bau apek
BK 91,4%
PK: 41,0%
SK:12,6%
Abu: 6,4%
TDN: 67%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
9.
|
Biji kacang hijau
|
Warna hijau
Tekstur butiran
Bau apek
BK:
PK:
SK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
10.
|
Biji turi
|
Warna coklat
Tekstur butiran
Bau apek
BK:
PK:
SK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
11.
|
Biji munggur
|
Warna coklat
Tekstur agak kasar
Bau tengik
BK:
PK:
SK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
12.
|
Tepung enceng gondok
|
Warna hijau
Tekstur agak kasar
Bau tengik
BK:
PK:
SK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
13.
|
Tepung daun lamtoro
|
Warna coklat kehitaman
Tekstur agak kasar
Bau apek
BK: 86%
PK: 20,4%
SK:15,5%
Abu: 5,4%
EE: 5,0%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
14.
|
Tepung tempe
|
Warna coklat
Tekstur lembut
Bau apek
BK: 86%
PK: 41,3%
SK: 5,3%
Abu: 8,0%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
15.
|
Tepung bulu hidrolisa
|
Warna coklat muda
Tekstur halus
Bau tengik
BK: 91%
PK: 81,7%
SK: 6%
Abu: 3,7%
EE: 3,0%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
16.
|
Tepung ikan
|
Warna coklat kekuningan
Tekstur halus
Bau amis
BK: 86%
PK: 62,6%
SK: 2,2%
Abu: 20,7%
EE: 6,8%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
17.
|
Tepung ikan asin
|
Warna coklat
Tekstur halus
Bau amis
BK: 86%
PK: 52,6%
SK: 2,2%
Abu: 9,9%
BETN: 2,9%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
18.
|
Tepung ikan hitam
|
Warna coklat kehitaman
Tekstur kasar
Bau amis
BK: 92%
PK: 60,2%
SK: 0,17%
Abu: 20,7%
BETN: 3,7%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
19.
|
Ampas tahu
|
Warna krem
Tekstur sedikit kasar
Bau tengik
BK: 100%
PK: 25, 37%
SK: 15, 27%
Abu: 7,4%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
20.
|
Ampas bir
|
Warna coklat
Tekstur serbuk kasar
Bau amis
BK: 94,3%
PK: 23,47%
SK: 18,5%
Abu: 4,6%
EE: 4,53%
TDN: 73,8%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
21.
|
Tepung daun
|
Warna coklat tua
Tekstur lembut
Bau apek
BK:
PK:
SK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
22.
|
Tepung jahe
|
Warna coklat
Tekstur lembut
Bau apek
BK:
PK:
SK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
23.
|
Meat Born Meal (MBM)
|
Warna krem gelap
Tekstur agak kasar
Bau amis
BK: 86%
PK: 58,6%
SK: 5%
Abu: 2,8%
EE: 7,2%
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
24.
|
Lysin
|
Warna krem
Tekstur agak kasar
Bau amis
BK:
PK:
SK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
25.
|
Glycine max
|
Warna coklat muda
Tekstur butiran
Bau apek
BK: 100%
PK: 48%
SK: 6,2%
Abu: 9,3%
EE: 5,7%
BN: 30,8%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
26.
|
Glycine max hitam
|
Warna hitam
Tekstur butiran
Bau apek
BK: 100%
PK: 37,7%
SK: 7,0%
Abu: 5,7%
EE: 19,3%
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
27.
|
Milo
|
Warna orange
Tekstur butiran
Bau apek
BK:
PK:
SK:
Abu:
EE:
TDN:
|
Sumber protein
(kelas 5)
|
Sumber laporan sementara
b.2 Pembahasan
Bungkil kedelai berwarna kuning krem, tekstur agak kasar dan bau tidak menyengat. Dengan kandungan SK 6,5%, KA 12%, PK 15%, Abu 7%, lemak 3,5 % dan TDN 80%.
Bungkil kedelai adalah salah satu bahan pakan yang konsentrat protein nabati yang sangat baik. Kandungan asam amino asensialnya mendekati asam amino esensial dari protein susu, glisinnya cukup tinggi kecuali metionin dan lisinnya rendah, sumber vitamin B kecuali vitamin B12 yang sangat rendah yaitu tidak seperti yang terkandung di dalam konsentrat protein hewani. Sebagai standar, bungkil kedelai mengandung protein kasar 50% untuk yang berasal dari kedelai tanpa kulit, biji 44% (Kamal, 1998).
Warna dari bungkil wijen adalah coklat tua, tekstur kasar dan bau tengik. Bungkil wijen (ampas) yaitu wijen yang sudah diambil minyaknya. Sangat baik untuk pakan ternak. Budidaya wijen relatif mudah, resiko kegagalan kecil input rendah dan mudah ditumpangsarikan dengan tanaman pangan atau industri (Anonim, 2008).
Bungkil kelapa berwarna coklat gelap, tekstur kasar menggumpal dan bau tengik. Kandungan BK 90,2%, SK 12,78%, PK 21,21%, TDN 78,99 %, Abu 8,14%, dan EE 8,89%.
Bungkil kelapa diperoleh sebagai hasil ikutan dari extraksi minyak dari daging kelapa kering (kopra). Pengaruh bungkil kelapa terhadap komposisi lemak pungung menaikkan kadar asam-asam lemak jenuh yang rantainya pendek. Bungkil kelapa menyebabkan menurunnya asam stearat dan sedikit perubahan asam oleat (Parakkasi, 1983).
Bungkil klentheng berwarna hitam, tekstur kasar dan bau tengik. Kandungan BK 86%, PK 27,3%, SK 20,6%, abu 6,8%, EE 8,6%.
Setelah kandungan minyak biji kapas diambil dengan berbagai macam proses, didapat bungkil klentheng yang kadar proteinnya akan relatif tinggi. Kadar zat-zat makanan dari bungkil tersebut banyak dipengaruhi antara lain oleh konsentrasi kulit klentheng dalam produk dan cara prosessingnya (Parakkasi, 1983).
Bungkil kacang hijau berwarna coklat tua ada hitamnya, tekstu kasar dengan kerikil kecil dan baunya apek.
Kacang hijau mengandung vitamin (terutama vitamin B), cukup protein dan sedikit lemak. Kacang hijau mempunyai mempunyai kandungan protein 24% dan karbohidrat sekitar 58% (Soeprapto dan Sutarman, 1982).
Bungkil kelapa sawit berwarna coklat kehitaman, tekstur halus, bau tengik dan rasa tawar. Kandungan BK 89,3%, SK 30,41%, PK 18,16%, EE 4,02% dan abu 5,96%.
Bungkil dari pembuatan minyak inti atau minyak daging buah disebut bungkil kelapa sawit dan sering disebut pula sebagai bungkil inti sawit. Bungkil inti sawit banyak digunakan sebagai bahan pakan sapi, bahkan untuk sapi perah (1,5 kg/ekor/hari) dapat menghasilkan susu yang bila lemak susunya dibuat mentega akan menghasilkan mentega yang baik (Kamal, 1998).
Biji kacang panjang ini berwarna hitam, tekstur butiran atau biji dan berbau apek. Kandubgan BK 86%, SK 19,12%, PK12,21%, abu 8,3%, ME 1,97% dan BETN 43,3%.
Biji kacang panjang bentuknya bulat agak memanjang dan pipih, di tengahnya terdapat bintik merah-tua atau hitam atau belang-belang.
Tanaman kacang panjang memiliki daya adaptasi yang cukup luas terhadap lingkungan tumbuh. Tanaman ini tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) lebih kurang 1500m dari permukaan laut (dpl). Tetapi paling baik adalah di dataran rendah.
Biji kapuk berwarna hitam, tekstur butiran, bau apek. Kandungan BK 91,4%, PK41,0%, SK 12,6%, abu 6,4%, TDN 67%.
Bij kapuk merupakan hasil samping dari buah kapuk, sedang hasil utamanya adalah serat kapuknya. Biji kapuk giling ternyata dapat digunakan di dalam ransum ternak ruminansia dalam jumlah yang cukup tinggi yaitu sampai 70% dalam ransum sapi potong (Kamal, 1998).
Biji kacang hijau berwarna hijau, ekstur butiran dan berbau apek.
Biji kacang hijau mengandung kadar lemak dan protein yang tinggi. Kandungan proteinnya seitar 23-34%, terdiri dari aasam-asam amino esensial seperti argonin, fenilalanin, histidin, asoleusin, leusin, lisin, metionin, kriotofan, dan valin. Kandungan lemaknya sekitar 16-50%, 76-86% diantaranya adalah aasam lemak tyidak jenuh seperti asam oleat dan linoleat. Kacang hijau mengandung karbohidrat sekitar 58% (Anonim, 2008).
Biji turi berwarna coklat, tekstur butiran, dan baunya apek.
Biji turi yang masih muda biasanya juga digunakan sebagai bahan masakan, sedang biji yang tua dapat dipakai sebagai bahan tempe yang baik karena kandungan protein yang tinggi (Anonim, 2008).
Biji munggur berwarna coklat, tekstur butiran dan bau apek.
Munggur (Samanea Saman) terbukti menyerap paling banyak karbondioksida dalm setahun, tanaman yang dibawa dari semenanjubg Yucatan, mexico itu menyerap 28,488,39 kg karbondioksida (Anonim, 2008).
Tepung enceng gondok berwarna hijau, tekstur agak kasar dan berbau tengik.
Enceng gondok dapatdijadikan pakan ternak karena tingginya kandungan serat kasar, enceng gondok harus diolah terlebih dahulu. Salah satu teknik pengolahannya adalah dengan proses fermentasi. Proses fermentasi ini dapat meningkatkannilai gizi yang terkandung dalam enceng gondok. Protein kasar meningkat sebasar 61,81% (6,31% ke 10,21%) dan serat kasar turun 18% (dari 26,61% ke 21,82%) (Anonim, 2008).
Terpung daun lamtoro berwarna coklat kehitaman, tekstur agak kasar dan berbau apek. Kandungan BK 86%, PK 20,4%, SK 15,5%, abu 5,4% dan EE 5,0%.
Tepung daun lamtoro banyak digunakan dalam ransum unggas. Tepung daun lamtoro megandung 24% protein, 3,25% lemak, kira-kira 14% serat kasar dan lebih dari 350mg betakaroten aktif perkilogram. Penggunaan tepung daun lamtoro masih dibatasi antara 3-4%, karena tepung daun lamtoro mengandung alkaloid yang beracun dan dikenal dengan nama mimosin (Wahyu,1988).
Tepung tempe berwarna coklat, tekstur lembut dan berbau apek.
Tempe mengandung komposisi gizi yang komplit: ada protein, lemak, karbohidrat, serat, abu, kalsium, fosfor, dan besi dalam kadar relatif tinggi. Kandungan ini lebih baik ketimbang kedelai biasa karena tempe sudah melalui proses fermentasi. Serangkaian penelitian bertahun-tahun lahirlah produk yang disebut (BMC) tempe. Ini adalah tempe yang dikukus lalu dikeringkan dan dibikin tepung. Tepung ini kemudian diperkaya lagi dengan tepung kacang hijau beras, telur, dan beberapa bahan lainnya. Tepung tempe ajaib inilah yang kini sedang dimasyarakatkan oleh UPT Balai Pengembangan Proses LIPI di Yogyakarta. Tepung ini mengandung nutrisi: protein 16,4%, lemak nabati 2,5%, air 7,5% serta vitamin B1, B2,B12, dan kalsimu, zat besi, kalium. Kandungan kalorinya 375/100gr bahan (Anonim, 2008).
Tepung bulu hidrolisa berwarna coklat muda, tekstur lembut, dan berbau tengik. Kandungan BK 91%, PK 81,7%, SK 6%, EE 30%, dan abu 3,7%.
Tepung ini dibuat dengan proses hidrolisa bersama dengan tekanan udara tertentu, nilai proteinnya lebih tinggi atau lebih bermanfaat dibandingkan dengan prossessing lainnya. Daya cerna proteinnya tidak kurang dari 70% dari 85% protein kasar yang dikandungnya (Parakkasi, 1983).
Tepung ikan berwarna coklat kekuningan., tekstur halus dan berbau amis. Kandungan BK 86%, PK 62,6%, SK 2,2%, EE 6,8%, dan abu 20,7%.
Tepung ikan merupakan sumber protein yang sangat baik untk unggas., karena mengandung asam-asam amino esensial yang cukup untuk kebuthan ayam dan sumber utama lisin dan metionin. Tepung ikan yang tidak rusak karena pengolahan mengandungenergi metabolis yang tinggi dibandingkan dengan bahan-bahan makanan produksi tinggi lainnya yang digunakan dalam ransum unggas. Kualitas tepung ikan bervariasi tergantung pada kondisi pengolahan dalam pabrik (Wahyu, 1988).
Tepung ikan asin berwarna coklat, tekstur halus dan berbau amis.
Tepung ikan asin terbuat dari bahan dasar ikan asin. Salah satu cara untuk membuat tepung ikan asin yaitu dengan teknik desalting. Yaitu dengan cara merendam ikan asin di dalam larutan berkonsentrasi garam rendahselama 12 jam. Proses ini mampu mengurangi kadar garam, menimgkatkan kadar protein, dan secara otomatis akan menaikkan harga jual produk. Dari segi mutu dan harga tepung ini telah mengalami peningkatan. Kadar protein meningkat dari 47,5% menjadi 54% setelah pelaksanaan program vecer, dan kadar air menurun dari 13,7% menjadi 10,4% (Anonim, 2008).
Tepung ikan hitam berwarna coklat kehitaman, tekstur kasar dan bau amis. Kandungan BK92%, PK60,2% dan SK 0,17%.
Dalam pengolahan ikan-ian yang kaya akan lemak menjadi tepung, biasanya harus dimasak, misalnya dengan steam (uap) kemudian diperas untuk mengeluarkan lemaknya dan akhirnya dugiling. Dalam proses pengeringan, pemasakan,dan segala fase pengolahan yang memerlukan panas yang tidak terkontrol akan menurunkan daya guna asam-asam amino yang terkandung di dalamnya (Parakkasi, 1983).
Ampas ytahu berwarna krem, tekstur sedikit kasar dan berbau tengik. Kandungan BK 100%, PK 25,36%, SK 15,27%, LK 11,2% dan abu 7,4%.
Ampas tahu merupakan produk sampingan pabrik tahu. Ampas tahu yang telah mengalami fermentasi dapat meningkatkan kualitas pakan dan pemacu pertumbuhan ayam pedaging. Kandungan air dan serat kasarnya tinggi, maka penggunaan ampas tahu menjadi terbatas dan belum memberikan hasil yang baik. Guna mengatasi ingginya kadar air dan serat kasar pada ampas tahu maka dilakukan fermentasi(Anonim, 2008).
Ampas bir berwarna coklat, tekstur serbuk kasar dan baunya amis. Kandungan BK 94,3%, PK 23,47%, SK 18,05%, EE 4,53%, abu 4,06% dan TDN 13,8%.
Ampas bir merupakan sisa dari pembuatan bir. Ampas ini merupakan penyaring yang efektifuntuk unsur organis yang berbahaya bagi lingkungan seperti trichloroethylene, atau TCE, zat kimia penyebab kangker yang terkandung dalm zat dan bahan perekat, serta benzene, racun yng biasa ditemukan dalam air yang terpolusi (Anonim, 2008).
Tepung daun berwarna coklat tua, tekstur lembut dan berbau apek.
Tepung daun biasa digunakan untuk campuran dalam penyusunan ransum untuk ternak.
Tepung jahe berwarna coklat, tekstur lembut, dan baunya apek.
Tepung jahe adalah butiran kering dari hasil penggilingan jahe kering. Tepung jahe ini diolah dari rimpang jahe segar, yang disortasi dan dicuci untuk menghilangkan pengaruh pestisida dan benda asing yang mungkin melekat, kemudian diproses dengan dipotong dan disteam untuk mengurangi kandungan mikroba, dan digiling setelah dicaoai kadar kekeringan yang diinginkan (Hasbullah, 2001).
Meat Born Meal berwarna krem gelap, tekstur agak kasar dan berbau amis. Kandungan BK 86%, PK 58,6%, SK 5%, abu 2,8% dan EE 2,2%.
Meat Born Meal (MBM) atau tepung daging dan tulang dibuat dari daging dan tulangnya., tetapi tidak termasuk darah, bulu, kulit, tanduk, kuku, lambung dan usus beserta isinya.. Kandungan fosfor minimal 4,4% dan kalsium (Ca)tidak lebih dari 2,2 kali kandungan fosfornya (P). Tepung daging dan tulang terutama digunakan untuk ternak babi dan unggas di samping untuk hewan piaraan (Kama,1998).
Lysin berwarna krem, tekstur agak kasar dan berbau amis.
Lysin meruoakan asam amino pembatas pada jagung. Oleh karena itu, mutu protein QPM (82%) jauh lebih tinggi dibanding jagung biasa (32%), bahkan lebih tinggi mutu dari protein beras (79%) dan gandum (39%) (Anonim, 2008).
Glycine max berwarna coklat muda, tekstur butiran dan berbau apek. Kandungan BK 100%, PK 48%, SK 6,2%, EE 5,7%, abu 9,3%, dan BN 30,8%.
Glycine max atau kedelai termasuk famili leguminosa. Tanaman glycine max yang masih hijau dan daunnya dapat diberikan pada ternak. Biji glycine max yang berwarna putih kekuning-kuningan dipakai untuk dijadikan tempe, tahu, tauco, susu dan tepung (Aksung, 1990).
Glycine max hitam berwarna hitam, tekstur butiran danbebau apek. Kandungan BK 100%, PK 37,7%, SK 7,0%, EE19,3% dan abu 5,7%.
Disebut glycine maxmax hitam karena biji glycine max ini berwarna hitam. Varietas unggul dari kedelai hitam, lebih terbatas dibandingkan dengan kedelai kuning. Para petani kurang mengerti budidaya kedelai hitam maupun pasca panen dan rantai bisnis kedelai hitam yang digunakan sebagai bahan baku kecap. Varietas unggul nasional kedelai hitam yang diberi nama Mallika yang berasal daribahasa Tamil artinya kerajaan. Varietas ini memiliki kandungan protein 37% dan lemak 20%. Di samping itu, kulitnya mengandung antioksidan dan antosianin, dengan daya simpan benih lebih tinggi dari kedelai kuning dengan masa simpan selama enam bulan masih mempunyai daya tumbuh lebih dari 80%.
Milo berwarna orange, tekstur butiran dan bau apek.
Milo disebut juga daun kaffir, energi metabolismenya hanya sedikit lebih rendah dari energi metabolis jagung. Nilai gizi milo sekitar 92-95% dari niai gizi jagung. Kendala utamanya adalah tannin, golongan poliphenol yang dapat berikatan dengan jenis protein. Tanninmenyyebabkan kecernaan bahan kering dan asam amino berkurang sebanyak 10% (Anonim, 2008).
c. Bahan Pakan Sumber Mineral
c.1. Hasil pengamatan
No
|
Nama Bahan Pakan
|
Hasil pengamatan
|
Kesimpulan
|
1.
|
Tentra element phosphor
|
Warna Abu-abu
Tekstur halus
Bau menyengat
|
Sumber mineral
|
2.
|
Calfos
|
Warna putih
Tekstur halus
Bau tidak terlalu menyengat
|
Sumber mineral
|
3.
|
Nacl
|
Warna putih
Tekstur kasar
Tidak berbau
BK:100%
Cl: 60,66%
Na : 39,34%
|
Sumber mineral
|
4.
|
Premix
|
Warna jingga
Tekstur halus
Bau apek
|
Sumber mineral
|
5.
|
Kalsit
|
Warna putih
Tekstur kasar
Bau apek
|
Sumber mineral
|
6.
|
Tri Sulfur Phosphat
|
Warna ungu muda
Tekstur butiran
Bau apek
|
Sumber mineral
|
7.
|
Menir batu
|
Warna putih kecoklatan
Tekstur lembut
Bau apek
|
Sumber mineral
|
8.
|
Tepung batu Kapur
|
Warna putih kecoklatan
Tekstur kasar
Bau tawar
Cl: 0,03%
Mg: 2,06%
K: 0,12%
BK: 100%
Na: 0,06%
Ca: 34%
P: 0,02%
S: 0,04%
Fe: 0,34%
|
Sumber mineral
|
9.
|
MBM Coklat
|
Warna coklat
Tekstur halus
Bau gurih
|
Sumber mineral
|
Sumber: laporan Sementara
c.2. Pembahasan
Tetra Elemen Phospor
Tetra elemen phosphor berwarna abu-abu, tekstur halus dan bau menyengat.
Rumus ransum yang terdiri dari biji-bijian dan sumber-sumber protein pada umumnya akan defisien terhadap phospor untuk kepentingan seluruh kondisi fisiologis dalam hidupnya, kecuali kalau ditambah dengan preparat-preparat yang mengandung phospor (Parakkasi, 1983)
Calfos
Calfos berwarna putih, tekstur halus dan bau kurang menyengat.
NaCl
NaCl berwarna putih, tekstur kasar dan bau tidak ada. Kandungan BK 100%, Cl 60,66%, dan Na 39,34%.
NaCl tau garam dapur berfungsi sebagai kondimen atau perangsang nafsu makan. Sifat ini disebabkan karena garam tersebut dapat merangsang sekresi saliva dan mengaktifkan enzim yang terdapat dalam saliva dan diastase lainnya (Parakkasi, 1983)
Premix
Premix berwarna jingga atau pink, tekstur halus dan berbau apek. Premix adalah campuran dari berbagai bahan sumber vitamin(premix vitamin), atau campuran sumber mineral mikro (premix mineral) aau campuran kedua-duanya (premix vitamin-mineral). Penggunaan premix mix di dalam ransum dibatasi yaitu hanya sampai sebanyak 0,5% (Kamal, 1988)
Kalsit
Kalsit berwarna putih, tekstur kasar dan berbau apek. Karakteristik fisik kalsik adalah berwarna putih atau beruban atau kelabu, berkilap seperti kaca, sifat terhadap cahaya adalah lembut cahaya ke transparan hanya di kristal yang individu, berbuih dengan mudah (Anonim, 2008)
Tri Sulfur Phosphat
Tri sulfur phosphat berwarna ungu muda, tekstur lembut dan berbau apek.
Tepung Batu Kapur
Tepumg batu kapur berwarna putih kecoklatan, tekstur kasar dan berbau tawar. Kandungan Cl 0,63%, Mg 2,06%, K 0,12%, BK 100%, Na 0,06%, Ca 34%, P 0,02%, S 0,04% dan Fe 0,34%.
Tepung batu kapur dapat dibuat dengan jalan menggiling batu kapur menjadi tepung (tepung batu kapur). Sebagai sumber Ca, tepung batu kapur yang halus dapat dicampur di dalam ransum ternak, dan tepung batu kapur yang kasar dapat diberikan tersendiri yaitu tidak dicampur di dalam ransum dan penggunaannya khusus untuk ternak tertentu (unggas) (Kamal, 1998)
MBM Coklat
MBM coklat berwarna coklat, tekstur halus dan berbau amis gurih. Semua macam tepung tulang dapat digunakan sebagai bahanpakan sumber utama mineral Ca dan P di dalam ramsum ternak. Kandungan Ca dan Pdi dalam ketiga jenis tepung tulang adalah sebagai berikut: tepung tulang rebus mengandung 22% Ca dan 10% P, tepung tulang kukus mengandung 35% Ca dan 155 p, tepung tulang arang atau abu tulang mengandung 34% Ca dan 16% P (Kamal, 1988)
d. Bahan pakan Sumber Vitamin
d.1. Hasil Pengamatan
No
|
Nama bahan pakan
|
Hasil Pengamatan
|
Kesimpulan
|
1.
|
Vitamin blend
|
Warna coklat
Tekstur kasar
Bau amis
|
Sumber vitamin
|
2.
|
Chloride atau choline
|
Warna coklat tua
Tekstur kasar lengket
Bau amis
BK 100%
Cl 52,03%
Zn 47,97%
|
Sumber vitamin
|
Sumber: Laporan Sementara
d.2. Pembahasan
Vitamin Blend
Vitamin blend berwarna coklat, tekstur kasar dan berbau amis. Pada umumnya vitamin yang jumlahnya terbatas di dalam bahan pakan alamiah alah vitamin A, D, E, B, asam pantotenat, niasin, kholin dan vitamin B12. kesemua macam vitamin yang di butuhkan ternak jumlahnya tergantung pada masing-masing spesies dan jenis ternak tersebut. Dalam perdagangan, bentuk kristal vitamin atau campuran vitamin banyak digunakan bagi manusia, dan dibuat dari hati dan ragi atau hasil fermentasi serta beberapa hasil sintetik. Dengan demikian, berbagai macam sumber vitamin larut dalam air dapat digunakan untuk memenuhi jumlah vitamin yang dibutuhkan di dalam ransum (Kamal, 1998).
Cloride atau Choline
Clorine berwarna coklat tua, tekstur kasar lengket dan berbau amis. Kandungan BK 100%, Cl 52,03% dan Zn 47,97%.
Zat dengan formula (CH3)2 NCH2CH2OH hendaknya disebut kholin. Vitamin ini adalh bagian yang terpenting dalam molekul posfolipid, lesitin (Parakkasi, 1983).
e. Feed Additif
e.1. Hasil Pengamatan
No
|
Nama bahan pakan
|
Hasil Pengamatan
|
Kesimpulan
|
1.
|
Metionin
|
Warna putih
Tekstur halus
Bau menyengat
|
Feed Additif
|
2.
|
Criflatox
|
Warna putih ke abu-abuan
Tekstur lembut
Bau apek
|
Feed additif
|
3.
|
Zink
|
Warna kuning ke coklatan
Tekstur lembut
Bau amis
Zn 29,79%
|
Fedd additif
|
Sumber : Laporan Sementara
e.2. Pembahasan
Metionin
Metionin berwarna putih, tekstur halus dan berbau menyengat. Tingkat metionin dalam ransum adalh penting dalam hubungannya dengan kebutuhan untuk kolin sebagai donor metil, dan vice-versa. Kolin dapat membantu metionin yang secara normal dipergunakan untuk tujuan transmetilasi tapi tidak dapat membantu kebutuhan pokok dari metionin ubtuk sintesa protein, kecuali kalau ransum tersebut mengandung homocystin (Wahyu, 1988).
Criflaktox atau anti fungal
Criflatox berwarna putih ke abu-abuan, tekstur lembut dan berbau apek. Jamur dapat mencemari atau tumbuh pada bahan pakan sewaktu masih di lapangan ataupun pada pakan yang telah jadi atau pakan komersial tersebut. Cara untuk mencegah terjadinya pertumbuhan jamur pada pakan antara lain adalah manambahkan bahan tertentu (anti fungal) yang dapat mencegah tumbuhnya jamur, misalnya asam propinat, natrium propinat atau anti jamur yang lain (Kamal, 1998).
Zink
Zink berwarna kuning-kecoklatan, tekstur lembut, dan baunya amis. Kandungan Zn adalah 29,79%. Unsur ini didapatkan terutama dalam jaringan epidermis (kulit, rambut/bulu/woll); dalam jumlah sangat sedikit didapatkan pula dalam tulang, urat daging, darah, dan berbagai organ lain (Parakkasi, 1983).
E. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
- Bahan pakan penyusun konsentrat mengandung sumber energi, sumber protein, sumber mineral, sumber vitamin dan feed additif.
- Bahan pakan sumber energi dapat berasla dari bij lamtoro, dddak padi, dedak, jagung, tepung jagung, tepung gaplek, tepung daun singkong, ampas tahu fermentasi, bekatul, corn gluten meal, polard, pati aren, tepung onggok, konsentrat komplit, kulit kopi.
- Bahan pakan sumber protein dapat berasal dari bungkil kedelai, bungkil wijen, bungkil kelapa, bungkil klentheng, bungkil kacang hijau, bungkil kelapa sawit, biji kacang panjang, biji kapuk, biji kacang hijau, biji turi, buji munggur, tepung enceng gondok, tepung daun lamtoro, tepung tempe, tepung bulu hidrolisa, tepung ikan, tepung ikan asin, tepung ikan hitam, ampas tahu, ampas bir, tepung daun, tepung jahe, meat bom meal (MBM), lysin, glysin max, glysin max hitam dan milo.
- Bahan pakan sumber mineral dapat berasal dari tetra elemen phosphat, calfo,NaCl, premix, kalsit, ri sulfur phosphat, kenir batu, tepung batu kapur, dan MBM coklat.
- Bahan pakan sumber vitamin dapat berasal dari vitamin blend dan cloride atau choline.
- Feed additif dapat berasal dari metionin, criflatox atau anti fungal dan zink
2. Saran
- Dalam praktikum identifikasi bahan pakan konsentrat, sebaiknya diatur mekanisme atau sirkulasinya agar bahan pakan konsentrat teramati oleh praktikan seluruhnya tanpa ada bahan pakan yang tertinggal/tidak teridentifikasi.
- Untuk bahan pakan konsentrat sebaiknya dipisah-pisahkan antara sumber energi, sumber protein, sumber mineral, sumber protein, dan feed aditif sehingga praktikan benar-benar paham.
- Bahan pakan yang digunakan untuk praktikum sebaiknya dalam keadaan baru atau masih layak untuk dikonsumsi ternak. Sehingga menunjukan kondisi saat di lapangan atau aplikasinya di lingkungan (masyarakat).
DAFTAR PUSTAKA
Aak. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Kanisius. Yogyakarta.
Aak. 2008. Sapi Perah. Kanisius. Yogyakarta.
Anggoradi, H.R. 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Anonim. 2009. BALITNAK Ransum Ayam Kampung. Martsiano. http://wordpress.com Diakses tanggal 17 April 2009 pukul 10.48 WIB.
Anonim. 2009. Ampas Tahu Tingkatkan Produksi Ayam Broiler. www.poultryIndonesia.com diakses tanggal 17 April 2009 pukul 11.18 WIB.
Anonim. 2009. Mendongkrak Pendapatan Petani Dengan Sentuhan Teknologi Maju. www.pustakadeptan.co.id diakses tanggal 17 April 2009 pukul 12.38 WIB.
Anonim. 2009. Budidaya dan Pasca Panen. www.litbang_deptan.co.id diakses tanggal 17 April 2009 pukul 12.52 WIB.
Anonim. 2009. Biji Kacang Aren. www.Indobiogen.or.id diakses tanggal 20 April 2009 pada pukul 10.06 WIB.
Anonim. 2009. Bunga dan Biji Turi. www.griyokulo.tv.id diakses tanggal 20 April 2009 pada pukul 10.15 WIB.
Anonim. 2009. Bertanam Trembesi. www.sahabatlingkunganmultyplay.com diakses taggal 20 April 2009 pada pukul 11.45 WIB.
Anonim. 2009. Agar Enceng tidak Bikin Gondok. www.katabermakna.blogspot.com diakses pada tanggal 20 April 2009 pada pukul 12.00 WIB.
Anonim. 2009. MBM Tempo Majalah. www.tempointeraktif.com diakses tanggal 20 April 2009 pada pukul 12.16 WIB.
Anonim. 2009. Bagaimana Memproses Tepung Ikan yang Baik. www.abswers.yahoo.com diakses tanggal 20 April 2009 pada pukul 12.37 WIB.
Anonim. 2009. Struktur Komposisi da Nutrisi Jagung. www.balitseeal.litbangdeptan.go.id diaksestanggal 20 April 2009 pada pukul 12.53 WIB.
Atjung. 2008. Tanaman yang Menghasilka Minyak, Tepung dan Gula. Yasaguna. Jakarta.
Harsono, H. S. 1995. Beternak Ayam Negeri Petelur Super yang Berhasil. Gunung Mas. Pekalongan.
Hasbullah. 2001. Teknologi Tepat Guna Industri Kecil. Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri. Sumatra Barat.
Kamal, M.1998. Bahan Pakan dan Penyusun Ransum. Fakultas Peternakan Universitas Gajahmada. Yogyakarta.
Murtidya, A. B. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Kanisius. Yogyakarta.
Parakasi, Amirudin. 1993. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak. Angkasa Bandung.
Rasyaf, M. 2001. Beternaka Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Depok.
Rukmana, Rahmat. 1995. Bertanam Kacang Panjang. Knisius. Yogyakarta.
Rukmana, Rahmat, dan Yuniarsih, Yuyun. 2001. Kedelai, Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.
Soeprapto dan Sutarman, Tateng. 1982. Betanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sugeng, B. 2000. Berternak Domba. Penebar Swadaya. Depok.
Sugeng dan Sudarmono. 2008. Beternak Domba Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Depok.
Suprayetno,dkk. 1981. Lamtoro gung dan Manfaatnya. Bhratara Karya Aksana. Jakarta.
Wahyu, Jojo. 1988. Ilmu Nutrisi Unggas. UGM Pers. Yogyakarta.
Wiliamson da Paeni. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. UGM Pers. Yogyakarta.
Windyarti, S. S. 2007. Beternak Itik Tanpa Air. Penebar Swadaya. Depok.
- FORMULASI RANSUM
.A. Pendahuluan
- Latar Belakang
Tidak semua bahan dapat dimasukkan dalam kategori bahan pakan. Bahan pakan adalah setiap bahan yang dapat di makan, disukai, dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, dapat di absorbsi dan bermanfaat bagi ternak, salah satu faktor terpenting dalam kehidupan ternak adalah pakan. Dimana, apabila pakan yang diberikan pada ternak dalam jumlah yang cukupdapat digunakan untuk beraktivitas dan tumbuh berkembang.
Seperti manusia ternak tidak hanya membutuhkan pakan dalam segi kuantitas yang cukup, tetapi kualitas harus juga terpenuhi. Pakan dengan kuantitas yang cukup hanya bisa memenuhi kebutuhan pokok ternak saja. Jadi kemampuan atau perfoman produksi terlihat biasa saja atau bahkan kurang. Untuk mendapatkan suatu produksi yang maksimal dibutuhkan suatu kasein bahan pakan, baik itu segi kualitas maupun segi kuantitas. Segi kualitas pakan mencakup kandungan nutrien bahan pakan, tekstur bahan pakan maupun tingkat palatabilitas ternak terhadap pakan.
Pada ternak jenis ruminansia dan non ruminansia mempunyai kemampuan mencerna pakan yang berbeda. Ternak ruminansia mampu mencerna pakan dengan kandungan serat kasar yang tinggi, sedangkan ternak ruminansia tidak dapat, dan hanya terfokus pada pakan dengan energi dan protein tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan produksi semua jenis ternak membutuhkan suatu pakan yang mengandung nutrien yang cukup. Nutrien yang cukup tidak dapat di temukan dalam satu jenis bahan pakan. Untuk itu diperlukan suatu campuran beberapa bahan yang mempunyai nilai nutritif tertentu yang sesuai dengan tujuan dari peternak. Bahan pakan yang dicampur dalam satu kesatuan pakan dan disusun sesuai dengan tujuan peternak biasa disebut ransum.
Ransum telah disusun dengan berbagai bahan pakan dan dapat pula berupa bahan non pakan. Bahan penyusun ransum dapat berasal dari biji-bijian, hijauan, ataupun batu-batuan yang ukurannya telah diperkecil. Dalam suatu ransum terdapat suatu keunggulan tertentu, baik itu dari segi energinya ataupun proteinnya. Baik itu dalam penyusunannya harus disesuaikan denan tujuannya.
Penyusunan ransum yang tepat sangat berpengaruh terhadap performan ternak. Untk itu dalam penyusunannya tidak boleh secara asal-asalan tetapi harus melalui beberapa proses tahapan dan perhitungan yang matang sebelum melakukan suatu perhitungan untuk menyusun ransum diperlukan beberapa informasi terlebih dahuli pada setiap kondisi dan situasi yaitu: 1,. Nutrien yang dibutuhkan ternak. 2. macam bahan pakan yang akan digunakan. 3. tipe ransum, dan 4. jumlah ransum yang dapat dikonsumsi.
- Tujuan
Praktikum formulasi ransum ini bertujuan untuk mensuplai nutriae ( dalam bentuk %) dan energi (dalam kalori), sehingga kebutuhan untuk ternak dapat terpenuhi.
- Waktu dan Tempat
Praktikum formulasi ransum ini dilaksanakan pada tanggal 28,30 April 2009 dan tanggal 1,5,8 Mei 2009 dan bertempat di laboraturium Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
- Tinjauan Pustaka
1. Formulasi Ransum
Dalam beberapa keadaan, peternakan akan merasa rugi bila memakai ransum yang dibuat oleh salah satu pengusaha makanan ternak. Menyusun ransum untuk keperluan sendiri dengan menggunakan bahan-bahan makanan yang mudah diperoleh disekitar peternakan atau dengan bahan makanan hasil pertanian sendiri, mungkin dapat lebih menguntungkan, sertab lebih sesuai dengan kebutuhan ternak yang sedang dipelihara (Aminudin, 1986).
Penyusunan ransum yang tepat sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap periode pertumbuhan dan produksi dipengaruhi oleh nilai gizi dan bahan-bahan makanan yang digunakan. Perubahan nilai nutrisi bahan-bahan makanan dapat disebabkan terutama oleh pengolahan dan penyimpanan. Untuk memilih bahan-bahan makanan yang akan dipergunakan dalam ransum harus diketahui dahulu kandungan zat-zat makanan dan bahan-bahan makanan tersebut ( ).
Penggunaan beberapa hijauan yang pada umumnya dibawah 4% dari total formulasi ransum menyebabkan hijauan ini tidak akan kekurangan, apalagi hijauan pada formulasi ransum unggas bukan bahan utama. Hijauajn itu dapat diganti atau dihilangkan dari formula ransum tanpa menggangu kandungan nutrisi dan harga ransum ( Rasyaf,1990).
Cara menyusun ransum perlu diketahui, bila ingin mengurangi biaya pakan. Ada dua cara dalam penyusunan ransum, yaitu dengan komposisi tabel, berpedoman kandungan protein dan jumlah maksimal penggunaan yang tersaji dalam tabel, dengan cara perhitungan sederhana
(Sandhy, 2007).
Salah satu metode untuk menentukan tepat tidaknya berapa bagian dari masing-masing jenisbahan yang akan diperlukan dalam ransum adalah dengan menghitung menurut sistem segi empat person. Dalam menentukan komposisi bahan-bahan pakan diutamakan memperhatikan banyaknya jenis bahan yang berasal dari tanaman, yaitu bahan pakan yang banyak mengandung karbohidrat, serat kasar dan protein ( Djanah, 1971).
2. Pencampuran Ransum
Pencampuran ransum pertama-tama dimulai dari bahan yang paling sedikit porsinya. Setelah homogen dimasukkan bahan makanan yang porsinya terkecil kemudian begitu seterusnya dan terakhir dimasukkan bahan pakan yang jumlah atau porsinya terbesar. Cara bertahap itu dimaksudkan agar tiap bahan makanan tercampur homogen ditiap bagian sehingga sejumlah unsur nutrisi yang dirancang benar-benar sampai ketujuannya (Rasyaf, 1994).
Sistem pemberian pakan yaitu penggabungan antara tepung halus (butiran halus) dengan butiran kasar atau bijian, hal ini dilakukan semata-mata agar kebutuhan tepung halus bisa terkurangi. Biji-bijian yang diberikan bersama tepung halus ( yaitu dari bahan yang banyak terdapat di sekitar kita misal, jagung,gabah, kedelai, bungkil kacang dan sebagainya (Marhiyanto,2000).
Pada pembuatan pakan ternak ada dua bentuk pakan yang dihasilkan yaitu konsentrat dan pakan jadi. Pada dasarnya konsentrat merupakan formulasi pakan yang berbentuk setengah jadi, biasanya konsentrat mengandung serat kasar rendah dan mengandung nilai gizi sehingga dalam penggunaanya harus dicampur dengan bahan-bahan lain yang mengandung protein ternak dan BETN sedangkan pakan jadi merupakan formulasi pakan yang memenuhi persyaratan dan aliran sesuai dengan kebutuhan ternak (Rasidi, 1998).
Dalam menyusun ransum dapat dilakukan dengan mencampur terlebih dahulu bahan pakan yang mempunyai jumlah atau bagian kecil misalnya mineral, premix, garam dapur, dan tepung batu. Hal ini bertujuan supaya campuran benar-benar merata, sebab kalau teknik pencampuran ini tidak tepat dikhawatirkan bagian yang kecil tidak merata pada setiap permukaan bahan yang lebih besar, seperti jagung, dedak halus, bungkil kedelai, bungkil kacang dan tepung ikan (Muslim,1993).
Untuk mendapatkan campuran ransum yang merata dan homogen, harus dilakukan pencampuran dengan teknik yang benar. Pencampuran bahan baku pakan yang beragam, ini dapat dilakukan secara mekanik dan manual. Dalam usaha ternak ayam berskala besar, dapat digunakan mesin pengaduk yang disebut feed mixer, sedangkan untuk usaha berskala kecil dan menengah. Pencampuran pakan ini cukup dilakukan secara manual, yakni dengan menggunakan skep atau drum (Sudarmono, 2003).
- Materi dan Metode
1. Formulasi Ransum
a. Materi
- Tabel komposisi nutrien bahan pakan
- Kertas
- Bolpoin
- Kalkulator
- Data atau kandungan Energi, PK, Ca dan P yang diperlukan ternak)
b. Metode
- Menyiapkan tabel komposisi nutrien bahan pakan dan standar kebutuhan nutrien ternak.
- Menyiapkan peralatan
- Menghitung formulasi dengan person square method untuk menentukan protein mix.
- Menghitung formulasi ransumnya, kandunagn ME, PK, Ca dan P dalam ransum yang dibuat.
- Mencapai hasilnya.
2. Pembuatan Ransum
a. Materi
- Timbangan
- Plastik ukuran 5 kg
- Plastik untuk alas
- Tepung Jagung
- Tepung Ikan
- Bekatul
- Bungkil kedelai
- Premix
- Kertas
- Bolpoin
- Steples
b. Metode
- Menyiapkan bahan pakan dan peralatan yang akan dipergunakan
- Menenpatkan plastik di atas meja sebagai alat untuk mencampur ransom
- Meninmbang tepung jagung 2,5 kg
- Menimbang bekatul 1 kg
- Menimbang tepung ikan 0,5 kg
- Menimbang bungkil kedelai 1 kg
- Menimbang premix 0,1 kg
- Meletakkan bahan pakan di atas meja dengan berlapis – lapis dengan urutan sebagai berikut:
- Paling bawah tepung jagung
- Tengah bagian bawah bekatul
- Tengah bungkil kedelai
- Tengah bagian atas tepung ikan
- Paling atas premix
- Membagi menjadi empat bagian
- Masing – masing bagian diaduk sampai homogen
- Menyatukan kembali empat bagian menjadi satu kembali dan mengaduknya sampai homogen
- menghitung persentase bahan pakan dan komposisi nutrien ransum yang telah dibuat dan dituliskan dalam label
- Memasukan ransom yang dibuat ke dalam pelastik dan memberinya lebel
D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
- Formulasi Ransum
- Hasil Pengamatan
Tabel 2.1.1 Kandungan nutrient bahan pakan
Bahan Pakan
|
ME (kkal)
|
PK (%)
|
Ca (%)
|
P (%)
|
Harga
|
Bekatul
|
2860
|
12
|
0,04
|
1,4
|
1.200
|
Tp Jagung
|
3370
|
8,6
|
0,02
|
0,3
|
2.000
|
Tp ikan
|
3080
|
61
|
5,5
|
2,8
|
6.000
|
Bungkil kedelai
|
2240
|
45
|
0,32
|
0,62
|
4.600
|
Premix
|
-
|
-
|
45
|
15
|
11.000
|
Sumber : Laporan sementara
Susunan ransum untuk ayam broiler fase starter dengan kebutuhan pakan sebagai berikut :
ME= 3200 kkal
PK = 23 %
Ca = 0,7 %
P = 0,45 %
Perhitungan :
- Basal Mix
- Protein mix
Metode person square
- Premix = 0,2 %
- Bahan pakan = 99,8 %
Angka konversi =
Basal Mix 9,45 27,3 66,83


23
Protein mix 50,3

40,85 100%
- PK
- ME
- Ca
- P
Tabel 2.1.2 Formulasi dan Kandungan Nutrien Ransum
Bhn Pakan
|
Formulasi(%)
|
ME (kkal)
|
PK(%)
|
Ca (%)
|
P(%)
|
Harga (Rp)
|
Bekatul
Tepung Jagung
Tepung Ikan
Bungkil Kedelai
Premix
|
6,97575
62,78182
18,02545
12,01697
0,2
|
199,506
2115,74273
555,184
269,180121
-`
|
0,8371
5,3992
10,996
5,7681
-
|
0,00279
0,01256
0,9914
0,003845
0,09
|
0,0977
0,1883
0,5047
0,0745
0,03
|
83,70909
1255,636
1081,527
552,7806
22,00
|
100
|
3139,618061
|
23,0004
|
1,0452
|
0,8652
|
2973,653
|
Sumber : hasil Perhitungan
- Pembahasan
Ransum adalah Pakan atau beberapa pakan yang diberikan ke ternak dalam jumlah tertentu dan harus mampu memenuhi kebutuhan (rekruitment) dari ter nak itu sendiri sehingga didapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan dari pemeliharaan. Ransum yang baik adalah ransum yang mengandung semua zat nutrient yang jumlahnya cukup serta sesuai dengan tingkat kebutuhan ternak, dan tidak menimbulkan gangguan pada metabolism dan pencernaan atau tidak bersifat toksin.
Sebelum menyusun sebuah ransum ternak, kita harus terlebih dahulu mempersiapkan beberapa hal, antara lain adalah kandungan nutrient beberapa bahan pakan yang akan dipergunakan. Dalam penentuan bahan pakan yang akan dipergunakanpun juga harus mempertimbangkan beberapa aspek antara lain ketersediaan bahan pakan dilingkungan, harga dan palatabilitas tingkat kesukaan ternak terhadap pakan tersebut). Selan itu kita harus mengetahui kebutuhan nutrient ternak yang akan dibuatkan ransumnya. Dengan demikian diharapkan ransum yang akan disusun dapat sesuai dengan standart kebutuhan nutren ternak tertentu dan tujuan pemeliharaan ternak tersebut. Dalam praktikum yang dilakukan, kami menyusun formulasi ransum untuk ayam broiler fase stater dengan kebutuhan nutrient berupa FE sebesar 3200 kkal, PK 20%, Ca 1% dan P sebesar 0,45 % dengan bahan-bahan bekatul dan tepung jagung sebagai sumber energy, tepung ikan dan bungkil kedelai sebagai sumber protein dan premix sebagai sumber mineral. Metode yang digunakan dalam penentuan formulasi ransumadalah metode Pearson’s Square.
Pearson’s Square Methodmerupakan metode yang sederhana dan yang hanya digunakan untuk membuat campuran yang hanya terdiri dari dua bahan pakan. Kedua bahan pakan tyersebut yang yang berbeda hanya kadar satu macam nutrien. Misalnya untuk menentukan kadar PK saja atau ME saja ( Kamal, 1998).
Pada praktikum didapatkan hasil perhitungan formulasi bahan pakan dan kandungan nutrient bahan pakan seperti tertulis pada table 2.1.2 di atas. Formulasi atau komposisi Ransum terdiri dari : Bekatul sebanyak 6,975758 %, tepung jagung sebanyak 62,78182 %, tepung ikan sebesar 18,02545 %, bungkil kedelai sebesar 12,01697 % dan premix sebesar 0,2 %. Sedangkan kandungan nutrient yang didapatkan dari formulasi ransum tersebut adalah ME sebesar 3139,618061 kkal. Protein kasar (PK) sebesar 23,0004 %, kalsium (Ca) sebesar 1,0452 %, Fosfor (P) sebesar 0,8652 %. Dan dengan formulasi di atas, harga per kg produksinya sebesar Rp 2973, 653.
Jika dibandingkan dengan standart kebutuhan untuk ternak maka didapatkan selisih antara kandungan nutrient ransum dengan kebutuhan ternak sebagaimana tertulis dalam tabel berikut ini :
Table 2.1.3 Perbandingan Kandungan Nutrient Langsung Dengan Standar Kebutuhan Ternak
Kandungan nutrien
|
Dalam ransum
|
Standar kebutuhan
|
selisih
|
ME (kkal)
Pk (%)
Ca (%)
P (%)
|
313,618061
23,0004
1,0452
0,8652
|
3200
23
1
0,45
|
-60,381939
0,0004
0,0452
0,4152
|
Sumber: Laporan Sementara
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa ME (energy) dari ransum yang dibuat di bawah kebutuhan standar ternak sebesar 60,38 kkal atau sebesar 1,89 %. Walaupun kandungan energinya kurang, namun masih dapat diperguankan ternak secara maksimal. Dengan demikian pertumbuhan ternak tidak terganggu karena kekurangan energinya lebih kecil dari 2 %. Sementara kebutuhan nutien lainnya telah terpenuhi, hanya saja kandungan nutrient Ca berlebihan sampai taraf 0,0452 atau 4,52 % dari kebutuhannya dan P berlebihan sampai taraf 0,4152 atau 41,52 % dari kebutuhannya. Akan tetapi kelebihan nutrient Ca dan P tersebut sangat kecil jika dilihat dari total ransum yang dibuat sehingga kelebihan nutrient Ca dan P juga tidak mempengaruhi pertumbuhan ternak. Pada pencernaan ternak, kelebihan kandungan nutrient pakan akan dikeluarkan lagi melalui proses atau ekskretanya.
Dengan kandungan nutrient yang telah mendekati sesuai dengan standar kebutuhan ternak diharapkan pertumbuhan ternak ayam broiler fase starter yang dipelihara dengan ransum ini dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal dan efisiensi pakan juga tinggi dengan sedikitnya sisa atau kelebihanya nutrient yang dibuang atau tidak dapat tercerna.
- Pembuatan Ransum
a. Hasil Pengamatan
Table 2.2.1. komposisi ransum
bahan
|
Jumlah (kg)
|
Prosentase (%)
|
Bekatul
Tepung jagung
Bungkil kedelai
Tepung ikan
premix
|
2,5
1
1
0,5
0,1
|
49,02
19,61
19,61
9,80
1,96
|
total
|
5,1
|
100
|
Sumber : laporan sementara
Penghitungan kandungan nutrien ransum
- Perhitungan Energy (ME) (kkal) per kg
Bekatul : 16,70 % x 2860 = 47762 %
Tepung jagung : 50,12 % x 3370 = 168904,4 %
Bungkil kedelai : 22,11 % x 2240 = 49526,4 %
Tepung ikan : 11,05 % x 3080 = 34034 %
TOTAL : 47762 + 168904,4 + 49526,4 + 34034 + 0
=
= 3002 %
- Perhitungan Protein Kasar (%) per kg
Bekatul : 16,70 x 12 : 200,4 %
Tepung jagung : 50,12 x 8,6 : 431,032 %
Bungkil kedelai : 22,11 x 45 : 994,95 %
Tepung ikan : 11,05 x 61 : 674,05 %
TOTAL = 
=23 %
- Perhitungan Kalsium (%) per kg
Bekatul : 16,70 x 0,04 : 0,668 %
Tepung jagung : 50,12 x 0,02 : 1,0024 %
Bungkil kedelai : 22,11 x 0,34 : 7,5174 %
Tepung ikan : 11,05 x 5,5 : 60,775 %
TOTAL =
= 0,7 %
- Perhitungan Fosfor (%) per kg
Bekatul : 16,70 x 0,16 : 2,672 %
Tepung jagung : 50,12 x 0,1 : 5,012 %
Bungkil kedelai : 22,11 x 0,29 : 6,4119 %
Tepung ikan : 11,05 x 2,8 : 30,94 %
TOTAL =
= 0,45 %
- Perhitungan Harga (Rp) per kg
Bekatul :
Tepung jagung :
Bungkil kedelai :
Tepung ikan :
Premix :
TOTAL :
Tabel 2.2.2. Komposisi Nutrien pada label
Nutrien
|
Jumlah
|
ME
PK
Ca
P
|
2562,5 kkal
23 %
1,5 %
1,4 %
|
Sumber : Laporan Sementara
b. Pembahasan
Komposisi bahan pakan yang digunakan dalam praktikum pembuatan bahan pakan adalah tepung jagung sebesar 2,5 kg, tepung ikan sebesar 0,5 kg, bungkil kedelai 1kg dan premix sebesar 100 gram. Dan dari perhitungan kandungan nutrient ransum didapatkan hasil ME sebesar 2562,5 kkal, PK sebesar 23 %, Ca sebesar 1,5 % dan P sebesar 1,4 %.
Proses pencampuran dilakukan secara manual menggunakan tangan (tanpa mesin). Teknis pencampurannya dengan beberapa tahap, pertama-tama bahan pakan ditumpuk-tumpuk mulai yang paling banyak berada di bagian bawah dengan ketebalan kurang lebih 3 cm. Kemudian bahan pakan yang lebih kecil atau yang lebih sedikit, dan seterusnya sampai bahan pakan yang paling sedikit dengan ditaburkan pada permukaan tumpukan sampai rata. Pada saat praktikum, bahan pakan yang paling bawah adalah tepung jagung kemudian bekatul, kemudian bungkil kedelai, kemudian tepung ikan dan yang terakhir adalah premix yang ditaburkan secara merata ker permukaan tumpukan yang terakhir.
Tahap berikutnya yakni membagi tumpukan ransum menjadi empat bagian yang masing-masing bagian dicampur dengan membolak balikan dan mengaduk bahan pakan dengan tangan. Pengadukan terus dilakukan hingga masing-masing bagian tercampur semuanya. Keempat bagian ransum tersebut dicampur dan disatukan kembali menjadi satu bagian yang homogen. Setelah homogen, ransum yang telah dibuat dimasukkan kedalam plastic dan di pak serta diberi label yang diberi tulisan kandungan nutrient ransum tersebut.
Ransum yang dicampur pada acara praktikum ini termasuk kedalam jenis ransum yang komplit. Ransum komplit termasuk dalam tipe ransum yang dibuat untuk ternak tertentu yang kandungan nutrient didalamnya telah disesuaikan dengan standar kebutuhan ternak tersebut. Ransum tersebut dapat diberikan langsung kepada ternak tanpa ditambahi atau dicampur dengan bahan lain (Rasidi, 1998).
Dari praktikum tersebut dapat dihitung biaya produksi untuk bahan pakan yang dipergunakan untuk membuat 1 kg ransum jadi tersebut adalah Rp. 2686,10. Bila, ingin mendapat keuntungan maka kita harus menjual dengan harga diatas Rp. 2700,00/kg.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
- Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum penyusunan ransum antara lain adalah standar kebutuhan nutrient ternak, kandungan nutrient untuk setiap bahan pakan yang digunakan, jumlah bahan pakan dilingkungan, tipe ransum dan harga bahan pakan.
- Formulasi ransum dalam praktikum ini dilakukan dengan metode person’s square.
- Komposisi ransum terdiri dari bekatul , tepung jagung, tepung ikan, bungkil kedelai, dan premix.
- Kandungan nutrient ransum yang dibaut adalah sebagai berikut : ME, KKal, PK, Ca, dan P.
- ME dalam ransum kurang dari standar kebutuhan ternak yaitu sebesar Kkal. Sementara yang lain telah mencukupi kebutuhan ternak (PK, Ca, dan P).
- Pada proses percampuran pakan, bahan pakan disusun bertumpuk mulai dari bahan yang paling banyak, kemudiaan yamg lebih sedikit. Bahan tadi diaduk sampai rata atau homogeny dengan menggunakan tangan.
- Komposisi bahan pakan yang digunakan sebagai penyusunan ransum adalah tepung jagung 2,5 kg, bekatul 1 kg, bungkil kedelai 1 kg, tepung ikan 0,5 kg, dan premix 100 gram.
- Komponen nutriennya yaitu ME, KKal, PK, Ca, dan P.
- Biaya yang dikeluarkan menyusun ransum adalah Rp. 2686,10/kg ransum jadi.
2. Saran
- Waktu praktikum hendaknya diperpanjang agar praktikan lebih paham terhadap materi dan praktikun yang dilaksanakan.
- Perlu diadakan pengenalan macam bahan pakan, kandungan nutrient yang ada maupun cara penyusunan ransum dengan menggunakan teknologi computer.
- Metode formulasi ransum selain person’s square method hendaknya diajarkan juga dalam praktikum.
- Bahan pakan sebelum praktikum diganti yang baru.
DAFTAR PUSTAKA
Aminudin, p. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Universitas Indonesia Press. Yogyakarta.
Djanah, Djamalin. 1971. Beternak Ayam. C.V. Yasaguna. Jakarta.
Juju, Wahyu. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Kumal, M. 1998. Bahan Pakan dan Penyusunan Ransum. Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada . Yogyakarta.
Marhiyanto. 2000. Sukses Beternak Ayam Arab. Dika Publisiner. Yogyakarta.
Muslim. 1993. Budidaya Ayam Bangkok. Kanisius. Yogyakarta.
Rasidi. 1998. Formulasi Ransum Lokal Untuk Unggas. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf. 1994. Makanan Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.
Rasyaf. 2000. Bahan Makanan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.
Sandy. 2007. Beternak Itik Tanpa Air. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudarmono. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius. Yogyakarta.
Comments
Post a Comment
Terima kasih sudah berkomentar,semoga bermanfaat