Skip to main content

ANALISIS USAHA BUDIDAYA TERNAK DAN PEMASARANNYA

A. PEMASARAN TERNAK.

1).Definisi Pemasaran. Pemasaran menurut William J. Stanton adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.  
2).Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain
3).Konsep Pemasaran. Falsafah konsep pemasaran bertujuan memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan pembeli/ konsumen. Konsep pemasaran disusun dengan memasukkan tiga elemen pokok, yaitu : u Orientasi konsumen / pasar / pembeli u Volume penjualan yang menguntungkan u Koordinasi dan integrasi seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan.
4).Rantai Pasok Secara komersial, ternak dipasarkan mulai dari peternak sebagai produsen ternak  hidup hingga konsumen akhir sebagai pengguna daging .
5).Rantai pemasaran mulai dari peternak hingga konsumen akhir disebut rantai pasok (supply chain ).
6).Panjangnya rantai pasok sangat dipengaruhi oleh jangkauan pemasaran secara spasial dan secara vertikal. Ternak sapi yang dijual hingga keluar pulau mempunyai rantai pasok lebih panjang dibandingkan dengan yang dijual di pasar lokal.



PERMASALAHAN PEMASARAN

Sebagai contoh kasus pemasaran ternak di Indonesia Timur.
1).Fasilitas Pendukung Pemasaran Ternak di Indonesia Timur Jarak dari daerah produksi ke daerah konsumsi dan pelabuhan interinsuler cukup jauh yang dihubungkan oleh jalan darat yang kondisinya kurang memadai.
2).Di wilayah IndonesiaTimur yang terdiri dari banyak pulau, pelabuhan dan kapal angkut menjadi sangat vital, namun fasilitas pelabuhan untuk muat dan bongkar ternak masih jauh dari memadai. Di pelabuhan Kupang misalnya, pemuatan ternak sapi keatas kapal tidak menggunakan ram tetapi derek yang dapat menyiksa ternak sapi yang dapat menimbulkan risiko luka dan bahkan patah kaki (Hadi dan Purba 2008).
3).Hal yang sama juga terjadi di Mataram (Ilham, 2001). Fasilitas untuk muat dan bongkar ternak ke/dari atas truk di seluruh pelabuhan di Indonesia Timur memang masih sangat minim.Angkutan ternak dari Indonesia timur menuju Cibitung (Bekasi/Jawa Barat) dilakukan melalui jalur laut sampai ke pelabuhan Kali Mas di Surabaya yang kemudian dilanjutkan dengan menggunakan truk atau gerbong kereta api menuju Jakarta dan sekitarnya (Ilham, 2001; Hadi et al , 2002; Budisantoso et al , 2008).
4).Namun penggunaan gerbong kereta api sekarang tidak ada lagi karena biayanya terlalu mahal. Tidak adanya layanan angkutan langsung lewat laut ke Jakarta karena risiko yang lebih besar sebagai akibat ternak terlalu lama di dalam kapal.Kondisi kapal juga kurang bagus. Kapal terbuat dari kayu, tidak dirancang khusus untuk ternak dan dicampur dengan barang-barang lainnya (Ilham, 2001; Budisantoso et al., 2008).
5).Ruang kapal untuk ternak sangat sempit dan tidak dilengkapi dengan air minum, pakan, kandang bersekat dan fasilitas bongkar muat.
6).Keberangkatan kapal juga tidak reguler lagi disamping frekuensi yang lebih sedikit. Pengangkutan sapi lewat darat dari pelabuhan Kali Mas Surabaya menuju Cibitung juga menggunakan truk gandengan yang tidak dirancang khusus untuk ternak.
7).Untuk pengiriman ternak antar pulau diperlukan karantina hewan yang ditempatkan didekat pelabuhan. Dalam penanganan ternak di karantina, pada umumnya kondisi kandang sudah baik tetapi fasilitasnya kurang, seperti air minum dan pakan terbatas (Ilham, 2001; Budisantoso et al , 2008).
8).Di Surabaya (Kalimas), kondisi kandang karantina bagi sapi dari Bali, NTB dan NTTyang akan dibawa ke Cibitung (Jawa Barat) cukup bagus, pasokan pakan cukup dan kesehatan ternak terpelihara secara baik, tetapi pasokan air minum kurang memadai (Budisantoso et al .2008).Waktu tunggu di kandang penampungan (holding ground ) di pelabuhan keberangkatan dan di tempat tujuan (Cibitung) dan di kandang karantina di pelabuhan keberangkatan dan di Surabaya cukup lama yang secara keseluruhan mencapai sekitar 15 hari.
9).Penanganan ternak yang kurang optimal dalam pengiriman ternak tersebut diatas menyebabkan terjadinya penyusutan ternak sapi (susut berat dan mati) sampai tempat tujuan cukup besar yaitu 7-10 persen untuk sapi dari NTB (Ilham, 2001) dan 10 -12 persen untuk sapi dari NTT (Budisantoso et al , 2009). Biaya susut tersebut sudah pasti dibebankan kepada peternak sehingga harga sapi di tingkat peternak menjadi lebih rendah dari yang seharusnya.



1).Dalam melakukan pemasaran hasil produk ternak sapi potong dituntut adanya tingkat kejelian “Manager Pemasaran”, khususnya di dalam cara menetapkan atau melaksanakan program dan strategi pemasaran. Demikian juga perlu memperhatikan masalah rantai pemasaran, sebab panjang pendeknya suatu rantai pemasaran produksi yang ditunjukkan oleh besarnya margin pemasaran.
2).Sebab suatu kebiasaan yang sering terjadi tingginya harga jual suatu jenis produk tertentu oleh pihak lembaga pemasaran justru akan dibebankan dalam harga yang harus di bayarkan konsumen ataupun oleh pihak produsen .Adapun diantara penyebab-penyebab utama besarnya biaya pemasaran suatu jenis produk  adalah :
(a).Lembaga pemasaran bekerja kurang efisien dan efektif ;
(b).Kurangnya keahlian lembaga pemasaran di dalam menangani produk yang dipasarkan ; dan
(C).Keadaan prasarana dan sarana yang kurang menunjang di dalam melakukan kegiatan pemasaran.

Sebagai pedoman didalam menyusun strategi pemasaran bagi pihak “Manager Pemasaran”,
harus memperhatikan adanya 4 (empat) tahapan dalam memprediksi jumlah permintaan pasar, yaitu:
1).Menentukan peluang pasar dan sasaran buyer yang dituju serta menentukan bagian pasar yang mungkin diraih oleh perusahaan.
2).Membagi total permintaan menjadi beberapa komponen utama sesuai dengan kecenderungan permintaan konsumen potensial, selain sistim pembayaran yang ditawarkan.
3).Melakukan peramalan pasar termasuk hal-hal yang turut mempengaruhi permintaan masing-masing bagian atau segmen konsumen, untuk seterusnya mengevaluasi sebab-sebab bagaimana hal ini dapat terjadi
4).Melakukan analisa sensitivitas untuk mendekati/mengetahui point-point mana dan unsur biaya yang labil dalam mempengaruhi arus keuangan usaha, dan sekaligus mengukur tingkat risiko peramalan.
Penyusunan suatu program pemasaran adalah dimaksudkan untuk menjamin kelancaran tercapainya target-target penjualan, sedangkan didalam menyusun strategi pemasaran juga harus mempertimbangkan masalah karakteristik masing-masing pasar, termasuk keadaan sarana prasarana penunjangnya dan pelakunya itu sendiri sehingga bagi seorang manajer pemasaran perlu memperhatikan hal-hal ini:
Tetap menjaga kestabilan, kesinambungan dan kualitas produk ternak sapi potong yang ditawarkan agar dapat menanamkan rasa kepercayaan konsumen terhadap kredibilitas perusahaan.
Tetap mengadakan riset dan penelitian secara tetap dan berkala terhadap perkembangan dan fluktuasi harga bulanan, yang terendah maupun yang tertinggi menurut waktu.


SISTEM PEMASARAN TERNAK POTONG

A.   Online
Dengan membuat web jual beli sapi potong maka kita akan dengan mudah distribusikan penjualan sapi dengan alamat domain http://www.jualbelisapi.com dan hosting di RumahWeb.com dengan biaya pertahun sebesar Rp. 210.000 /250MB.
Adapun system penjualan di webnya :
1.    Pemesanan
Untuk Cara Pemesanan sapi sangat mudah sekali, kami menyediakan dua metode cara pemesanan sapi :
1). Order langsung via Hp dengan format :
Nama- Kota- Jenis Sapi -Gender Sapi-Berat Sapi-Jumlah Sapi
Contoh : Rudi Jakarta  Sapi Bali Jantan 300Kg 10 Ekor. Kami akan kirimkan balasan Stok sapi pesanan anda serta DP Pembelian sapi 50% yang harus anda transfer.
2). Order via Form . Untuk Metode ke 2 silahkan anda isi Form  yang tersedia di  bawah ini. Kami akan kirimkan balasan via Hp/Email berupa stok sapi2 pesanan anda serta total DP 50%  yang harus anda transfer.
*Minimal Pemesanan adalah 10 Ekor untuk dikirim ke Jabodetabek dan 100 ekor untuk luar kota.
2.    Pembayaran
Metode Pembayaran di jualbelisapi..com dapat dilakukan dengan  :
1). Pembayaran dilakukan dengan transfer via ATM Bersama dari Bank dan rekening apapun.
2). Pembayaran dilakukan di Lokasi kandang Penjual
3). Pembayaran dilakukan di Lokasi kandang Pembeli
  Pembayaran 50% dari total harga harus dilakukan Cash/via Transfer  di awal setelah terjadi perjanjian antara kedua belah pihak, baik pembayaran di lokasi kandang penjual maupun kandang pembeli
  Untuk sisa 50% dari pembayaran harus dilu nasi Cash saat sapi telah diterima di Lokasi kandang pembeli
  Transport sepenuhnya dibebankan kepada pembeli dan harus dibayar diawal 100% sebelum pesanan diantar ke Lokasi pembeli
  Transport tidak akan dikembalikan kepada pembeli, jika ternyata pembeli membatalkan pesanannya ditengah perjalanan pengantaran sapi yang dipesan atau bahkan sapi telah sampai ke lokasi kandang pembeli.
 Kami tidak akan memproses pesanan anda, jika anda belum memenuhi metode pembaya
    ran yang kami tawarkan

3.    Pengiriman
Kami akan selalu berusaha secepatnya mengantar pesanan anda saat anda mengkonfirmasi pembayaran 50% dan Transport  yang telah kami infokan. Maka dihari yang sama atau maksimal 1 hari setelah pembayaran, pesanan anda akan segera kami antar ke lokasi anda sebagai pembeli. Untuk pemeliharaan dan penjagaaan sapi dari kandang kami hingga sampai ketempat anda sebagai pembeli, semua menjadi tanggung jawab penuh kami, sehingga jika ada sapi yang mati atau terluka saat dalam perjalanan maka pihak kami yang akan menanggungnya.
Berikut beberapa jasa transportasi yang kami pergunakan :
   Mobil Carry barang untuk pengantaran pesanan JABODETABEK, Jawa Barat dan Jawa Timur yang berkapasitas 3 ekor kebawah.
   Mobil Truck FUSO untuk pengantaran pesanan ke area JABODETABEK, Jawa Barat dan Jawa Timur yang berkapasitas 15-20 ekor.
Kapal Laut Ferry untuk pengantaran Luar Provinsi (Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan) yang berkapasitas maksimal hingga 300 ekor.
     Untuk tarif pengiriman tergantung kepada jarak lokasi pengiriman dan Pemilihan Jasa Transportasi yang digunakan.

B.   Blantik Sapi
1).Salah satu pemasaran ternak sapi yaitu dengan blantik sapi. Sistem kami bekerja sama dengan blantik sapi yang sudah kami percaya karena untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
2).Masih sama seperti sistim tradisional blantik sapi yaitu kami mematok harga fix untuk setiap sapi dan blantik sapi akan mengambil untung dari bagaimana kepintaran mereka dalam negoisasi penjualan sapi kepada pelanggan mereka.


Gambaran Usaha Budidaya Penggemukan Sapi

Berikut ini adalah gambaran usaha beternak sapi potong dalam berwirausaha. Lahan yang digunakan untuk beternak sapi kalau bisa merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya.
Contohnya :
1).Sapi bakalan yang dipelihara sebanyak 10 ekor dengan harga awal Rp. 7.500.000/ekor dengan berat badan awal sekitar 250 kg/ekor. Sapi dipelihara selama satu periode atau 5 bulan dengan penambahan berat badan (PBBH) sekitar 0,8-1,2 kg/ekor dengan biaya Rp.400.000/bulan.
2).Penyusutan kandang 20 % / tahun dengan demikian penyusutan untuk satu periode 10%. 10 ekor sapi membutuhkan obat-obatan sebesar Rp. 50.000/ekor/periode. Tenaga kerja 1 orang dengan gaji Rp. 750.000/bulan. Peralatan kandang yang dibutuhkan sebesar Rp. 250.000/periode. Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 6.000 kg yang bisa dijual lagi dengan harga Rp. 200/kg.
3).Pakan yang diperlukan untuk satu periode adalah: :
HMT 20kg x 10 x 150 x Rp.500
Konsentrat 3 kg x 10 x 150 x Rp. 1.500
Pakan tambahan 3 kg x 10 x 150 x Rp. 500
Modal Usaha :
1. Pembuatan kandang 30 meter x Rp. 400.000 –> Rp. 12.000.000
2. Peralatan kandang –> Rp. 500.000
BiayaVariabel :
1. Sapi bakalan 10 x 250 kg x Rp. 30.000 –> Rp. 75.000.000
2.HMT (pakan) –> Rp. 10.000.000
3.Konsentrat (pakan) –> Rp. 6.750.000
4.Pakan Tambahan –> Rp. 2.250.000
   Total Biaya Variabel –> Rp. 93.000.000
BiayaTetap :
1. Tenaga Kerja 1 orang x 5 x Rp. 750.000 –> Rp.3.750.000
2. Penyusutan kandang 10 % x Rp. 12.000.000 –> Rp. 1.200.000
3.Penyusutan peralatan –> Rp. 250.000
Total Modal Tetap –> Rp. 5.200.000
Total biaya untuk usaha = Rp. 93.000.000 + Rp. 5.200.000 = Rp. 98.200.000
Penerimaan
A.Penerimaan didapat dari penjualan sapi dan kotoran. Penambahan berat badan sapi 1 kg x 150 = 150 kg/ekor/periode dan berat badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 400 kg. Berat keseluruhan sapi adalah 10 x 400 kg = 4.000 kg dengan harga daging (Karkas) sapi Rp. 30.000/kg. Sehingga penerimaan yang didapat dari penjualan daging (Karkas) adalah Rp. 120.000.000.
B.Sedangkan penerimaan yang didapat dari penjualan kotoran ternak 6.000 x Rp. 200 = Rp. 1.200.000
Total penerimaan adalah Rp. 120.000.000 + Rp. 1.200.000 = Rp. 121.000.000. Keuntunganya adalah Rp. 121.000.000 (penerimaan)– Rp. 98.200.000 (pengeluaran)=  Rp.22.800.000
B/C Ratio = Rp. 121.000.000 : Rp. 22.800.000 = 5,3
Meskipun usaha penggemukan sapi memiliki peluang cukup besar namun bukan berarti tanpa ada kendala. Ada sejumlah kendala-kendala yang umum terjadi pada peternak sapi seperti
a).Modal besar di awal pemeliharaan, sulit untuk memperoleh pakan sapi berkualitas,
b).Harga daging sapi potong yang tidak sebanding dengan biaya pakan.
c).Kenaikan bobot badan sapi yang tidak optimal karena serangan penyakit, dan pemasaran sapi potong bagi peternak pemula.
Keunggulan sapi PO ini antara lain  tahan terhadap panas, terhadap ekto dan endoparasit, pertumbuhan relatif cepat walaupun adaptasi terhadap pakan kurang, serta persentase karkas dan kualitas daging baik.

I. Investasi pada sapi PO kebutuhan hari biasa

Berikut ini contoh analisa usaha budidaya penggemukan sapi :
Asumsi-asumsi :
  Lahan yang digunakan merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya.
 Sapi bakalan yang dipelihara sebanyak 6 ekor jenis PO dengan harga awal Rp. 7.000.000/ekor dan berat badan sekitar 250 kg/ekor
 Sapi dipelihara selama 6 bulan dengan penambahan berat badan sekitar 0,7 kg/ekor/hari
 Kandang yang dibutuhkan seluas 30 M2 dengan biaya Rp. 400.000/M2
Penyusustan kandang 20 % / tahun dengan demikian penyusutan untuk satu periode 10 %
   Sapi membutuhkan obat-obatan sebesar Rp. 60.000/ekor/periode
 Tenaga kerja 1 orang dengan gaji Rp. 500.000/bulan
 Peralatan kandang dibutuhkan sebesar Rp 500.000/tahun, dengan demikian untuk satu periode Rp. 250.000
Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 6.000 kg dengan harga Rp. 200/kg
       Pakan yang diperlukan untuk satu periode
      o HMT 40 kg x 6 x 180 x Rp.100
      o Konsentrat 3 kg x 6 x 180 x Rp. 1.500
      o Pakan tambahan 3 kg x 6 x 180 x Rp. 200
A. MODAL USAHA
Biaya Investasi
1. Pembuatan kandang 30 M2 x Rp. 400.000                                             Rp. 12.000.000
2. Peralatan kandang   Rp.500.000.-                     Biaya Variabel1. Sapi bakalan 6 x Rp. 7.000.000    =Rp.42.000.000.-
2. HMT           =Rp.4.320.000.-
3. Konsentrat  =Rp.4.860.000.-                        4. Pakan Tambahan  =Rp.648.000.-                        Total Biaya Variabel  = Rp.51.828.000.-   

Biaya Tetap
1. Tenaga Kerja 1 orang x 6 x Rp. 500.000                                       Rp.  3.000.000
2. Penyusustan kandang 10 % x Rp. 12.000.000                              Rp.  1.200.000
3. Penyusutan peralatan  Rp.250.000.’         Total Modal Tetap RP.4.450.000.                  

TOTAL BIAYA PRODUKSI = Rp. 51.828.000 + Rp. 4.450.000 = Rp. 56.278.000

B. PENERIMAAN

Penjualan sapi dan kotoran
   Penambahan berat badan 0,7 kg x 180 = 126 kg/ekor/periode dan berat badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 376 kg, untuk berat keseluruhan adalah 6 x 376 kg = 2.256 kg dengan harga Rp. 32.000/kg. jadi uang yang didapat adalah Rp. 72.192.000
   Penjualan kotoran ternak 6.000 x Rp. 200 = Rp. 1.200.000.-

      TOTAL PENERIMAAN = Rp. 72.192.000 + Rp. 1.200.000 = Rp. 73.392.000

KEUNTUNGAN = Rp. 73.392.000 - Rp. 56.278.000 = Rp. 17.114.000
B/C Ratio = Rp. 73.392.000 : Rp. 56.278.000 = 1,3
 ( artinya dalam satu periode produksi dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 130 )

 BEP ( Break Even Point )

 1. BEP Harga = Total biaya : Berat sapi total
                               = Rp. 56.278.000 : 2.256 
                               = Rp. 24.945 /
2. BEP Volume Produksi = Total biaya produksi : Harga jual
 = Rp. 56.278.000 : Rp.32.000/kg= 1.758 kg     
                                          
Artinya usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 6 ekor sapi mencapai berat badan 1.758 kg atau harga jual Rp. 24.945/kg

II. Investasi pada Sapi PO kebutuhan Hari Raya Qurban / Idul Adha

a).Untuk Sapi PO patokan harga yang biasanya dipakai adalah harga taksiran, harga sapi PO pada saat Idul Adha bervariasi mulai dari Rp. 9,000,000 – Rp. 15,000,000.
b).Semakin mendekati hari Raya Qurban harga sapi semakin melambung, selain itu banyak pula beredar sapi yang ditawarkan dengan harga terlalu tinggi. Untuk hal tersebut kami menawarkan system pembelian sapi PO kebutuhan hari raya Qurban dengan system booking.
c).Melalui system booking, konsumen bisa mendapatkan sapi kebutuhan hari raya Qurban dengan kualitas bermutu dan dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan membeli pada pedagang umum di hari raya qurban.
Penambahan berat badan 0,7 kg x 180 = 126 kg/ekor/periode dan berat badan sapi sekarang untuk setiap ekor adalah 376 kg, untuk berat keseluruhan adalah 6 x 376 kg = 2.256 kg dengan harga Rp. 37.000/kg. jadi uang yang didapat adalah Rp. 83.472.000
Penjualan kotoran ternak 6.000 x Rp. 200 = Rp. 1.200.000
          TOTAL PENERIMAAN = Rp. 83.472.000 + Rp. 1.200.000 = Rp. 84.672.000
          KEUNTUNGAN = Rp. 84.672.000 - Rp. 56.278.000 = Rp. 28.394.000
          B/C Ratio = Rp. 84.672.000 : Rp. 56.278.000 = 1,5
( artinya dalam satu periode produksi dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 150 )

          BEP ( Break Even Point )

1. BEP Harga = Total biaya : Berat sapi total
                               = Rp. 56.278.000 : 2.256 
                               = Rp. 24.945 / kg
 2. BEP Volume Produksi = Total biaya produksi : Harga jual                                       
= Rp. 56.278.000 : Rp.35.000/kg
                  = 1.607 kg

Artinya usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 6 ekor sapi mencapai berat badan 1.607 kg atau harga jual Rp. 24.945/kg

Comments

Popular posts from this blog

Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Kambing

Organ tubuh luar terdiri dari atas kepala, kaki depan, kaki belakang, total kaki, kulit, ekor, otak, mata dan lidah. Organ tubuh dalam terdiri dari total organ tubuh dalam, total saluran pencernaan, darah dan lemak hasil ikutan internal. Ternak kambing memberikan beberapa keuntungan bagi petani peternak, antara lain : 1) Sebagai ternak penghasil daging, susu, Wit dan pupuk, 2) sebagai hewan tabungan,   3) cepat berkembang biak dan beranak lebih dari satu dalam satu kali melahirkan, 4) modal yang diperlukan relatif kecil, 5) kandang dan pemeliharaamya sederhana dan tidak membutuhkan tenaga yang banyak, 6) dapat menggunakan limbah pertanian sebagai makanan dan 7) mempunyai resiko pemeliharaan gang kecil. Pertumbuhan tubuh sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan bagian-bagian tubuh yang terdiri atas organ-organ tubuh luar dan dalam.   Sebagian dari organ-organ ini adalah organ yang masak dini, hal ini karena organ tersebuk merupakan organ pengatur dan penunjang aktifitas tubuh, s...

Laporan Praktikum Ilmu Kesehatan Ternak (IKT) | Nekropsi

BAB I PENDAHULUAN     Nekropsi merupakan pemeriksaan kondisi jaringan tubuh ternak yang dilakukan dengan cara membedah atau membuka rongga tubuh sehingga fisik organ dalam ternak dapat diamati. Dalam penggunaanya, nekropsi banyak digunakan dalam hal pemeriksaan unggas yang diduga telah terjangkit penyakit. Hal ini dilakukan agar dapat diketahui penyakit yang diderita oleh unggas sehingga dapat ditentukan penanganan yang tepat untuk menanggulangi penyakit tersebut agar peternakan terhindar dari kerugian finansial yang lebih besar. Maka dari itu nekropsi sangat penting untuk dipelajari, mengingat pentingnya menjaga kesehatan unggas dalam keberlangsungan usaha peternakan.     Tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan lebih terlatih dalam melakukan nekropsi pada unggas dan mampu menganalisa penyakit yang diderita oleh unggas. Manfaat dari praktikum ini adalah agar praktikan lebih memahami secara mendalam mengenai karakteristik penampilan luar dan organ da...

Sistem Reproduksi Hewan Ruminansia Jantan

Tugas utama hewan jantan/pejantan secara alamiah adalah memproduksi semen/spermatozoa yang subur dan menempatkanya  dalam alat kelamin betina dengan tepat.  Tugas ini dilaksanakan oleh organ reproduksi primer dan sekunder.   Organ reproduksi primer pada hewan jantan yaitu testis. Sedangkan   organ   reproduksi   sekunder   terdiri   dari   epididymis,   vas deferens, uretra, kelenjar vesikularis, kelenjar prostate dan kelenjar bulbouretralis/cowper dan penis. Secara alamiah fungsi esensial dari seekor pejantan adalah menghasilkan sel-sel kelamin jantan atau spermatozoa yang cukup, aktif dan infertil serta secara sempurna mampu meletakkannya ke dalam saluran reproduksi betina. Semua proses fisiologis dalam tubuh ternak jantan, baik secara langsung maupun tidak langsung, menunjang produksi dan kelangsungan hidup spermatozoa.  Namun demikian pusat kegiatan dari kedua proses ini terletak pada orga...