Skip to main content

Analisis Kelayakan Usaha Pembibitan Sapi

Pembibitan ruminansia besar (sapi potong/sapi perah) dan ruminansia kecil (domba/kambing) merupakan upaya peningkatan populasi ternak. Fase pembibitan ruminansia sapi disebut juga sebagai fase pembesaran yang dihitung sejak terjadinya kebuntingan sampai pedet lepas sapih (12 bulan). Induk sapi yang difungsikan berumur 18 bulan dengan bobot 250 kg. Induk sapi akan dipelihara selama bisa bereproduksi dengan baik yang perkawinannya melalui Inseminasi Buatan (IB).

Contoh 1 : Jenis sapi potong yang akan dikembangkan untuk pembibitan adalah jenis sapi lokal yakni peranakan sapi ongole (PO).

(a) Proyeksi Pendapatan

Proyeksi pendapatan usaha pembibitan sapi potong (5 ekor) secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1 dan biaya Investasi Pembibitan Sapi Potong (5 ekor)

Tabel. Biaya Investasi Awal Usaha Pembibitan Sapi potong (5 ekor)


Uraian

Volume

Satuan

Harga (Rp)
Jumlah

(Rp.)
1. Investasi Awal




- Kandang
5
unit
350.000
1.750.000
- Bibit
5
ekor
6.000.000
30.000.000
- Peralatan
1
unit
750.000
750.000
2. Modal Kerja Awal




- HMT
45.625
Kg
85
3.878.125
- Konsentrat
5.475
Kg
850
4.653.750
- IB
8
kali
30.000
240.000
- Tenaga Kerja
730
JOK
2.500
1.825.000
-     Lain-lain     (Obat,

listrik)


1


Unit


400.000


400.000
Total biaya investasi
43.496.875
Sumber data: analisis kelayakan (2010)

Biaya investasi awal usaha pembibitan sapi potong (5 ekor) secara rinci dapat dilihat pada tabel 8, sedangkan Biaya operasional usaha pembibitan sapI poting (5 ekor) dapat dilihat pada Tabel 9.



Tabel 2. Biaya Operasional Usaha Pembibitan Sapi potong
(5 ekor)


Biaya operasional

Volume

Satuan

Harga
Jumlah

(Rp.000)
- HMT
45.625
Kg
85
3.878.125
- Konsentrat
5.475
Kg
850
4.653.750
- IB
8
kali
30.000
240.000
- Konsentrat Pedet
270
Kg
850
229.500
- Tenaga Kerja
730
JOK
2.000
1.460.000
-      Lain-lain      (Obat,

listrik)


1


Unit


500.000


500.000
Total Biaya Operasional
10.961.375
Sumber data: analisis kelayakan (2010)




Tabel 2. menunjukkan bahwa biaya total investasi awal usaha pembibitan sapi potong untuk 5 ekor sebesar Rp 43.496.875,00. Sedangkan biaya total operasional untuk 5 ekor sapi sebesar Rp
10.961.375,00.  Pada  akhir  investasi  atau  tahun  ke-6  produksi

(akhir     umur     ekonomis)     biaya     operasional     sebesar     Rp.

10.961.375,00. Karena pada tahun itu induk diafkir dan digemukkan maka Inseminasi Buatan (IB) tidak dilakukan. Oleh karena itu, Biaya operasional perlu dikurangi  biaya IB sebesar Rp
240.000,00.




(b) Proyeksi Laba/Rugi

Proyeksi laba/rugi usaha pembibitan sapi potong (5 ekor) secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3.



Tabel 3Proyeksi Laba/Rugi (Rp.000)


Uraian
Tahun
1
2
3
4
5
6
1. Pendapatan






- Penjualan
28.750
26.900
26.900
26.900
26.900
41.900
- Salvage Value





46.070
2.                Total

Pendapatan


28.750


26.900


26.900


26.900


26.900


87.970
3. Pengeluaran
54.458
10.961
10.961
10.961
10.961
10.961

4. Laba
-

25.708


15.939


15.939


15.939


15.939


77.009
Sumber data: analisis kelayakan (2010)

Data tersebut menunjukkan proyeksi laba/rugi pada tahun pertama masih mengalami kerugian sebesar Rp 25.708.000,-. Namun, pada tahun ke dua sampai pada tahun ke lima berturut- turut sudah mengalami laba sebesar Rp 15.939.000,-. Pada tahun ke enam laba yang diperoleh sebesar Rp 77.009.000,-. Hal ini karena pada tahun keenam sapi sudah diafkir dan digemukkan.

(c)  Analisis NPV (Net Present Value)  Pembibitan Sapi Potong (5 ekor)
NPV (Net Present Value) atau nilai bersih sekarang adalah alat yang digunakan untuk menghitung nilai sekarang dari laba suatu investasi, apakah investasi tersebut memberi keuntungan atau bahkan sebaliknya. NPV dihitung dengan cara menghitung nilai sekarang laba (nilai sekarang pendapatan dikurangi nilai sekarang investasi/biaya operasional) tahun pertama hingga tahun terakhir umur proyek investasi, kemudian nilai sekarang laba tahun pertama hingga tahun terakhir dijumlahkan. Proyek investasi ini baru layak dijalanka, jika total nilai sekarang laba



lebih besar dari 0 (Nol). Sementara Rasio Gross B/C adalah rasio dari pendapatan (B=Benefit) dibandingkan dengan biaya (C=Cost) yang telah dihitung nilai sekarangnya (telah didiscount factor). Proyek investasi baru layak dijalankan (Go) jika rasio B/C lebih besar dari 1 (satu).  Analisis ini pada dasarnya tidak jauh  berbeda  dengan  analisis  NPV.  Secara  rinci  dapat  dilihat pada Tabel 11.

Berdasarkan Tabel 4. dapat dilihat bahwa hasil perhitungan NPV (Net  PresenValue) adalah Rp 19.429.000,-.   Berarti NPV  > 0, dengan demikian proyek ini layak untuk diusahakan. Sedangkan hasil analisis BCR menunjukkan nilai sebesar 1,24. Nilai BCR ini
> 1, artinya proyek ini layak diusahakan.


Tabel 4.  Hasil NPV dan BCR Usaha Pembibitan Sapi
Potong      (Rp. 000)


Thn

Infestasi

Benefit
Total
Cost
Net
benefit
DF
18%
PV
Benefit
PV
Cost


0


43.496


0


43.496
-

43.496


1



43.496
1

28.750
10.946
17.804
0,8475
24.366
9.277
2

26.900
10.946
15.954
0,7182
19.320
7.861
3

26.900
10.946
15.954
0,6086
16.371
6.662
4

26.900
10.946
15.954
0,5158
13.875
5.646
5

26.900
10.946
15.954
0,4371
11.758
4.784
6

41.900
10.946
30.954
0,3704
15.520
4.054

101.209
81.781
NPV
19.429
Benefit Cost Ratio (BCR)
1,24
Sumber data: analisis kelayakan (2010)



(d) Analisis IRR (Internal Rate Return)

Analisis IRR (Internal Rate Return) usaha perbibitan sapi potong untuk 5 ekor (tabel 5). IRR (Internal Rate Return) menghitung tingkat bunga pada saat arus kas sama dengan 0 (nol) atau pada saat  laba  yang telah  didiscount  factor  sama dengan 0.  IRR ini berguna untuk mengetahui pada tingkat bunga berapa proyek investasi tetap memberikan keuntungan. Jika bunga sekarang kurang dari IRR maka proyek dapat diteruskan, dan jika bunga lebih  dari  IRR  maka  proyek  investasi  lebih  baik  dihentikan. Bunga sekarang < IRR (38,41 %),  sehingga proyek dapat diteruskan




Tabel 5. Hasil Analisis IRR Usaha Pembibitan Sapi Potong
(Rp.000)


Thn

Benefit

Cost
Net
Benefit
DF

18%
PV Net
Benefit
DF

(20 %)
PV Net
Benefit
0
0
43.496
-43.496
1
-43.496
1
-43.496
1
28.750
10.946
17.804
0,8475
15.089
0,8333
14.836
2
26.900
10.946
15.954
0,7182
11.458
0,6944
11.078
3
26.900
10.946
15.954
0,6086
9.710
0,5787
9.233
4
26.900
10.946
15.954
0,5158
8.229
0,4823
7.695
5
26.900
10.946
15.954
0,4371
6.973
0,4019
6.412
6
41.900
10.946
30.954
0,3704
11.465
0,3349
10.366

62.881

59.577
IRR
38,41
Sumber data: analisis kelayakan (2010)



(e) Analisis Payback Periods

Analisis Payback Periods usaha pembibitan sapi potong untuk 5 ekor secara rinci dapat dilihat pada tabel 6. Tabel menunjukkan bahwa investasi pada Payback Periods (PBP) berada pada tahun ke 3 bulan ke 9. Setelah 3 tahun 9 bulan, investasi sudah mulai mendatangkan hasil.

Tabel 6. Perhitungan Hasil Payback Periods (Rp.000)


Thn

Infestasi

Benefit
Total
Cost
Net benefit
DF
18%
PV Investasi
PV Cost
PV Net
Benefit
0
43.496
0
43.496
-43.496
1
43.496


1

28.750
10.946
17.804
0,8475

9.277
15.089
2

26.900
10.946
15.954
0,7182

7.861
11.458
3

26.900
10.946
15.954
0,6086

6.662
9.710
4

26.900
10.946
15.954
0,5158

5.646
8.229
5

26.900
10.946
15.954
0,4371

4.785
6.973
6

41.900
10.946
30.954
0,3704

4.054
11.465

43.496
38.285
62.925
PBP
3,9
Sumber data: analisis kelayakan (2010)




(f)  Analisis Break Even Point (BEP)

Analisis Break Even Point (BEP) usaha pembibitan sapi potong untuk

5 ekor secara dapat dilihat pada Tabel 7.



Tabel 7. Analisis Break Even Point (BEP)


Thn

Benefit
Total
Cost
Net
Benefit
DF
18%
PV Benefit
PV Cost
PV net
Benefit
0
0
43.496
-43.496
1

43.496

1
28.750
10.946
17.804
0,8475
24.366
9.277
15.089
2
26.900
10.946
15.954
0,7182
19.320
7.861
11.458
3
26.900
10.946
15.954
0,6086
16.371
6.662
9.710
4
26.900
10.946
15.954
0,5158
13.875
5.646
8.229
5
26.900
10.946
15.954
0,4371
11.758
4.784
6.973
6
41.900
10.946
30.954
0,3704
15.520
4.054
11.465

101.209
81.781
62.925
BEP
3,2
Sumber data: analisis kelayakan 2010) 



Data tersebut menunjukkan bahwa Break Even Point (BEP) berada pada tahun ke 3,2 (3 tahun, 2 bulan).  Setelah 3 tahun 2 bulan, investasi sudah mulai mendatangkan keuntungan.



Comments

Popular posts from this blog

Anatomi dan Fungsi Saluran Pencernaan Kambing

Organ tubuh luar terdiri dari atas kepala, kaki depan, kaki belakang, total kaki, kulit, ekor, otak, mata dan lidah. Organ tubuh dalam terdiri dari total organ tubuh dalam, total saluran pencernaan, darah dan lemak hasil ikutan internal. Ternak kambing memberikan beberapa keuntungan bagi petani peternak, antara lain : 1) Sebagai ternak penghasil daging, susu, Wit dan pupuk, 2) sebagai hewan tabungan,   3) cepat berkembang biak dan beranak lebih dari satu dalam satu kali melahirkan, 4) modal yang diperlukan relatif kecil, 5) kandang dan pemeliharaamya sederhana dan tidak membutuhkan tenaga yang banyak, 6) dapat menggunakan limbah pertanian sebagai makanan dan 7) mempunyai resiko pemeliharaan gang kecil. Pertumbuhan tubuh sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan bagian-bagian tubuh yang terdiri atas organ-organ tubuh luar dan dalam.   Sebagian dari organ-organ ini adalah organ yang masak dini, hal ini karena organ tersebuk merupakan organ pengatur dan penunjang aktifitas tubuh, s...

Laporan Praktikum Ilmu Kesehatan Ternak (IKT) | Nekropsi

BAB I PENDAHULUAN     Nekropsi merupakan pemeriksaan kondisi jaringan tubuh ternak yang dilakukan dengan cara membedah atau membuka rongga tubuh sehingga fisik organ dalam ternak dapat diamati. Dalam penggunaanya, nekropsi banyak digunakan dalam hal pemeriksaan unggas yang diduga telah terjangkit penyakit. Hal ini dilakukan agar dapat diketahui penyakit yang diderita oleh unggas sehingga dapat ditentukan penanganan yang tepat untuk menanggulangi penyakit tersebut agar peternakan terhindar dari kerugian finansial yang lebih besar. Maka dari itu nekropsi sangat penting untuk dipelajari, mengingat pentingnya menjaga kesehatan unggas dalam keberlangsungan usaha peternakan.     Tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan lebih terlatih dalam melakukan nekropsi pada unggas dan mampu menganalisa penyakit yang diderita oleh unggas. Manfaat dari praktikum ini adalah agar praktikan lebih memahami secara mendalam mengenai karakteristik penampilan luar dan organ da...

Sistem Reproduksi Hewan Ruminansia Jantan

Tugas utama hewan jantan/pejantan secara alamiah adalah memproduksi semen/spermatozoa yang subur dan menempatkanya  dalam alat kelamin betina dengan tepat.  Tugas ini dilaksanakan oleh organ reproduksi primer dan sekunder.   Organ reproduksi primer pada hewan jantan yaitu testis. Sedangkan   organ   reproduksi   sekunder   terdiri   dari   epididymis,   vas deferens, uretra, kelenjar vesikularis, kelenjar prostate dan kelenjar bulbouretralis/cowper dan penis. Secara alamiah fungsi esensial dari seekor pejantan adalah menghasilkan sel-sel kelamin jantan atau spermatozoa yang cukup, aktif dan infertil serta secara sempurna mampu meletakkannya ke dalam saluran reproduksi betina. Semua proses fisiologis dalam tubuh ternak jantan, baik secara langsung maupun tidak langsung, menunjang produksi dan kelangsungan hidup spermatozoa.  Namun demikian pusat kegiatan dari kedua proses ini terletak pada orga...