2) Pemilihan Pejantan Produktif
a) Pemilihan Pejantan Berdasarkan Penampilan Luar (Eksterior) Penampilan Luar (Eksterior)
Calon pejantan harus dipilih yang memiliki penampilan luar (eksterior) yang baik. Biasanya pejantan yang memiliki penampilan luar baik akan mempengaruhi produktivitas dan mutu anak yang dihasilkan. Untuk menilai penampilan luar pejantan dapat ditinjau dari kondisi umum dan kondisi khusus.
Kondisi Umum
Penampilan luar yang perlu diperhatikan dalam pemilihan sapi sebagai calon pejantan adalah sebagai berikut :
(1) dalam keadaan sehat dan tidak cacat.
(2) memiliki mata cerah dan kulitnya mengkilat (tidak kusam).
(3) bergerak lincah dan nafsu makannya baik.
(4) memiliki leher panjang dan besar .
(5) memiliki tubuh panjang, berbentuk balok (Sesuai bangsanya) dan dada dalam.
(6) memiliki kaki besar, tegak dan kokoh.
(7) memiliki pertumbuhan tubuh yang kompak/serasi.
(8) memiliki warna kulit dan bulu khas sesuai bangsanya.
Kondisi Khusus
Berdasarkan ketetentuan kontes dan pameran ternak nasional yang termasuk dalam “statistik vital” pada ternak sapi meliputi ukuran tinggi gumba, panjang badan, lingkar dada, lebar dada, dalam dada, lebar panggul, lebar pinggul, panjang pinggul, panjang kepala, lebar kepala, berat badan, dan umur.
Ukuran-ukuran tersebut dapat memberi gambaran tentang bentuk umum ternak tersebut, sehingga tipe dan kapasitas ternak dapat diramalkan. Cara pengukuran bagin-bagian tubuh tersebut sebagai berikut :
(1) Panjang badan diukur mengikuti garis horizontal yang ditarik dari tepi depan sendi bahu ke tepi belakang bungkul tulang duduk.
(2) Tinggi gumba, diukur dari bagian tertinggi gumba ke tanah mengikuti garis tegak lurus.
(3) Lebar dada, ditentukan oleh jarak tepi luar sendi bahu kanan kiri mengikuti garis horizontal.
(4) Dalam dada, jarak antara puncak gumba dan tepi bagian bawah dada mengikuti garis tegak lurus.
(5) Lingkar dada, diukur mengikuti lingkar dada persis di belakang bahu, mengenai puncak gumba atau pada sapi persis di belakang punuk dan melewati ujung belakang tulang dada.
(6) Lebar pinggul, ditentukan oleh jarak sendi pinggul kanan kiri.
(7) Tinggi pinggul, diukur dari bagian sendi pinggul tegak lurus sampai ke tanah.
Ukuran minimum “statistik vital” sapi-sapi jantan bibit Indonesia disajikan pada Tabel 3, sedangkan penilaian sapi calon pejantan pada Tabel 4 berikut.
b) Pemilihan Pejantan Berdasarkan Aspek Reproduksi
Fertilitas Ternak Jantan
Penilaian tingkat fertilitas ternak pejantan dilakukan dengan menilai tingkat kesehatan secara umum dan keberhasilan untuk berkembang biak, yaitu dengan menggunakan kriteria :
(1) Kesehatan umum : bebas dari kelainan anatomis pada organ genitalia yang dapat mempengaruhi kesehatan umum dan aktivitas reproduksi.
(2) Status genetik : bebas dari cacat yang menurun dari nenek moyangnya, dan keturunan-keturunan dari ternak tersebut.
(3) Kesehatan seksualis : bebas penyakit reproduksi terutama kelamin.
(4) Kemampuan untuk mengawini.
(5) Fertilitasnya : spermatozoanya mampu untuk membuahi ovum.
Dalam pengamatan dan palpasi organ genitalis pejantan dapat diketahui dengan pasti bahwa organ tersebut berada dan berkembang secara normal bagi pejantan tersebut sesuai dengan bobot hidup dan umurnya, dan juga ditemukan tidak adanya kelainan-kelainan yang berkaitan erat dengan spermatogenesis (kualitas semen rendah). Di samping itu keagresipan pejantan untuk mengawini betina.
Skrotum (kantong buah zakar)
Skrotum diamati dan dipalpasi dari bagian belakang, di mana bentuk, kulit dan elastisitas otot skrotum harus tampak jelas. Bentuk asimetris sering kali merupakan bentuk yang disebabkan oleh lipatan kulit pada satu sisi yang terlihat paling kecil. Hal ini disebabkan mungkin karena perbedaan besar testis, tetapi kadang-kadang lebih disebabkan oleh reaksi sementara dari salah satu testis.
Testis (buah zakar)
Untuk menilik testis maka perlu memfiksasi testis dalam membrannya sebelum pemeriksaan, dan saat mempalpasi amati perubahan bentuk, ukuran, simetri, posisi, konsistensi, dan kemampuan berpindah tempat saat (naik turun) untuk peningkatan suhu, dan keempukan testis.
Cara memfiksasi tesis adalah dengan kedua ibu jari kita letakkan secara horizontal pada dorsal pole testis dan tekan ke arah bawah. Cara ini digunakan untuk membandingkan ukuran besar testis kiri dan kanan.
Cara mempalpasi testis adalah dengan salah satu tangan (misal tangan kiri) memfiksir testis kiri dan ibu jari kiri menekan bagian septum medialis testis, tangan kanan tetap memfiksir testis kanan seperti kedudukan semula, demikian juga untuk palapasi testis sebelah kanan.
Setelah palpasi skrotum dan testis selesai, kemudian diukur lingkar skrotum. Pengukuran lingkar skrotum dilakukan dengan menggunakan pita ukur dengan skala cm. Mula-mula dilingkarkan pada bagian atas skrotum secara longgar, kemudian dengan perlahan- lahan diteruskan sampai menjadi ukuran yang maksimum.
Lingkar skrotum (lingkar kantong buah zakar) dapat memberikan indikasi kemampuan seekor pejantan menghasilkan semen. Kecuali itu, lingkar skrotum mempunyai hubungan dengan umur kedewasaan dari sapi jantan.
Berikut ini disajikan evaluasi terhadap lingkar skrotum yang tercantum dalam Tabel 5.
a) Pemilihan Pejantan Berdasarkan Penampilan Luar (Eksterior) Penampilan Luar (Eksterior)
Calon pejantan harus dipilih yang memiliki penampilan luar (eksterior) yang baik. Biasanya pejantan yang memiliki penampilan luar baik akan mempengaruhi produktivitas dan mutu anak yang dihasilkan. Untuk menilai penampilan luar pejantan dapat ditinjau dari kondisi umum dan kondisi khusus.
Kondisi Umum
Penampilan luar yang perlu diperhatikan dalam pemilihan sapi sebagai calon pejantan adalah sebagai berikut :
(1) dalam keadaan sehat dan tidak cacat.
(2) memiliki mata cerah dan kulitnya mengkilat (tidak kusam).
(3) bergerak lincah dan nafsu makannya baik.
(4) memiliki leher panjang dan besar .
(5) memiliki tubuh panjang, berbentuk balok (Sesuai bangsanya) dan dada dalam.
(6) memiliki kaki besar, tegak dan kokoh.
(7) memiliki pertumbuhan tubuh yang kompak/serasi.
(8) memiliki warna kulit dan bulu khas sesuai bangsanya.
Kondisi Khusus
Berdasarkan ketetentuan kontes dan pameran ternak nasional yang termasuk dalam “statistik vital” pada ternak sapi meliputi ukuran tinggi gumba, panjang badan, lingkar dada, lebar dada, dalam dada, lebar panggul, lebar pinggul, panjang pinggul, panjang kepala, lebar kepala, berat badan, dan umur.
Ukuran-ukuran tersebut dapat memberi gambaran tentang bentuk umum ternak tersebut, sehingga tipe dan kapasitas ternak dapat diramalkan. Cara pengukuran bagin-bagian tubuh tersebut sebagai berikut :
(1) Panjang badan diukur mengikuti garis horizontal yang ditarik dari tepi depan sendi bahu ke tepi belakang bungkul tulang duduk.
(2) Tinggi gumba, diukur dari bagian tertinggi gumba ke tanah mengikuti garis tegak lurus.
(3) Lebar dada, ditentukan oleh jarak tepi luar sendi bahu kanan kiri mengikuti garis horizontal.
(4) Dalam dada, jarak antara puncak gumba dan tepi bagian bawah dada mengikuti garis tegak lurus.
(5) Lingkar dada, diukur mengikuti lingkar dada persis di belakang bahu, mengenai puncak gumba atau pada sapi persis di belakang punuk dan melewati ujung belakang tulang dada.
(6) Lebar pinggul, ditentukan oleh jarak sendi pinggul kanan kiri.
(7) Tinggi pinggul, diukur dari bagian sendi pinggul tegak lurus sampai ke tanah.
Ukuran minimum “statistik vital” sapi-sapi jantan bibit Indonesia disajikan pada Tabel 3, sedangkan penilaian sapi calon pejantan pada Tabel 4 berikut.
Tabel 3. Ukuran Minimum “Statistik vital” Sapi Betina
| Ukuran | Sapi Bali | Sapi Ongole | Sapi Madura | |||
| (cm) | Muda | Dewas | Muda | Dewasa | Muda | Dewasa |
| Tinggi gumba | 112 | 126 | 128 | 135 | 110 | 116 |
| Panjang badan | 127 | 134 | 127 | 133 | 132 | 127 |
| Lingkar dada | 185 | 193 | 162 | 171 | 151 | 159 |
| Umur (th) | 2- 3,5 | 4-8 | 2-3,5 | 4-8 | 2-3,5 | 4-8 |
Tabel 4. Penilaian Sapi Calon Pejantan
| No | Bagian Tubuh | Nilai | Skor | Jumlah |
| 1. | Kepala dan leher | (10) .......... | 1 | .............. |
| 2. | Warna kulit | (10) .......... | 1 | .............. |
| 3. | Dada dan Punggung | (10) .......... | 1 | .............. |
| 4. | Pinggang dan Pinggul | (10) .......... | 2 | .............. |
| 5. | Paha dan kaki | (10) .......... | 2 | .............. |
| 6. | Pertumbuhan dan keharmonisan bentuk | (10) .......... | 2 | .............. |
| 7. | Testis | (10) .......... | 1 | .............. |
| Total | .............. | |||
Catatan : 1. Tinggi gumba ...... cm
2. Panjang badan ...... cm
3. Lingkar dada ...... cm
4. Berat badan ...... cm
5. Umur ........ bulan/tahun
Fertilitas Ternak Jantan
Penilaian tingkat fertilitas ternak pejantan dilakukan dengan menilai tingkat kesehatan secara umum dan keberhasilan untuk berkembang biak, yaitu dengan menggunakan kriteria :
(1) Kesehatan umum : bebas dari kelainan anatomis pada organ genitalia yang dapat mempengaruhi kesehatan umum dan aktivitas reproduksi.
(2) Status genetik : bebas dari cacat yang menurun dari nenek moyangnya, dan keturunan-keturunan dari ternak tersebut.
(3) Kesehatan seksualis : bebas penyakit reproduksi terutama kelamin.
(4) Kemampuan untuk mengawini.
(5) Fertilitasnya : spermatozoanya mampu untuk membuahi ovum.
Dalam pengamatan dan palpasi organ genitalis pejantan dapat diketahui dengan pasti bahwa organ tersebut berada dan berkembang secara normal bagi pejantan tersebut sesuai dengan bobot hidup dan umurnya, dan juga ditemukan tidak adanya kelainan-kelainan yang berkaitan erat dengan spermatogenesis (kualitas semen rendah). Di samping itu keagresipan pejantan untuk mengawini betina.
Skrotum (kantong buah zakar)
Skrotum diamati dan dipalpasi dari bagian belakang, di mana bentuk, kulit dan elastisitas otot skrotum harus tampak jelas. Bentuk asimetris sering kali merupakan bentuk yang disebabkan oleh lipatan kulit pada satu sisi yang terlihat paling kecil. Hal ini disebabkan mungkin karena perbedaan besar testis, tetapi kadang-kadang lebih disebabkan oleh reaksi sementara dari salah satu testis.
Testis (buah zakar)
Untuk menilik testis maka perlu memfiksasi testis dalam membrannya sebelum pemeriksaan, dan saat mempalpasi amati perubahan bentuk, ukuran, simetri, posisi, konsistensi, dan kemampuan berpindah tempat saat (naik turun) untuk peningkatan suhu, dan keempukan testis.
Cara memfiksasi tesis adalah dengan kedua ibu jari kita letakkan secara horizontal pada dorsal pole testis dan tekan ke arah bawah. Cara ini digunakan untuk membandingkan ukuran besar testis kiri dan kanan.
Cara mempalpasi testis adalah dengan salah satu tangan (misal tangan kiri) memfiksir testis kiri dan ibu jari kiri menekan bagian septum medialis testis, tangan kanan tetap memfiksir testis kanan seperti kedudukan semula, demikian juga untuk palapasi testis sebelah kanan.
Setelah palpasi skrotum dan testis selesai, kemudian diukur lingkar skrotum. Pengukuran lingkar skrotum dilakukan dengan menggunakan pita ukur dengan skala cm. Mula-mula dilingkarkan pada bagian atas skrotum secara longgar, kemudian dengan perlahan- lahan diteruskan sampai menjadi ukuran yang maksimum.
Lingkar skrotum (lingkar kantong buah zakar) dapat memberikan indikasi kemampuan seekor pejantan menghasilkan semen. Kecuali itu, lingkar skrotum mempunyai hubungan dengan umur kedewasaan dari sapi jantan.
Berikut ini disajikan evaluasi terhadap lingkar skrotum yang tercantum dalam Tabel 5.
Tabel 5. Evaluasi lingkar skrotum
| | Lingkar Skrotum (cm) | | |||
| Klasifikasi | Umur (bulan) | Skor | |||
| 12 – 14 | 15 – 20 | 21 – 30 | 30 + | ||
| Sangat baik | 35 | 37 | 39 | 40 | 40 |
| Baik | 30 – 35 | 31 – 37 | 32 – 39 | 33 – 40 | 24 |
| Jelek | 30 | 31 | 32 | 33 | 10 |
Penis
Dengan cara pengamatan yang teliti dan palpasi penis maka dapat diraba glans penis yang diselaputi oleh membran mucosa dan glans penis ini menduduki sepertiga kaudal rongga preputium. Secara perlahan tarik dan lepaskan (maju mundur) kulit preputium, untuk mengetahui kebebasan gerakan penis saat ereksi atau relaksasi.
Dengan cara pengamatan yang teliti dan palpasi penis maka dapat diraba glans penis yang diselaputi oleh membran mucosa dan glans penis ini menduduki sepertiga kaudal rongga preputium. Secara perlahan tarik dan lepaskan (maju mundur) kulit preputium, untuk mengetahui kebebasan gerakan penis saat ereksi atau relaksasi.
Comments
Post a Comment
Terima kasih sudah berkomentar,semoga bermanfaat