Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2015

Teknik Palpasi Rektal pada Ternak Bunting

 Dalam usaha pembangunan Peternakan Kesehatan dan reproduksi ternak menjadi faktor penting dalam mendorong populasi dan pertumbuhan/perkembangan ternak. Karena dari reproduksi maka akan tumbuh genari baru/individu ternak baru. Kecepatan pertumbuhan ini sangat di tentukan: 1) Kondisi ternak yang dapat di nilai dari Body Condition Scorer (BCS). 2) Kondisi kesehatan dan normalitas organ reproduksi. 3) Keberhasilan fertilisasi baik kawin secara alami maubun melalui teknik Inseminasi Buatan (IB). Untuk mengetahui kondisi status kesehatan organ reproduksi ternak khususnya sapi, maka perlu mempelajari teknik palpasi rekta l, dengan tata cara pelaksanaan sebagai berikut : 1) Pemeriksa memekai pelindung sepatu boot, pakaian praktek lapangan berlengan pendek. 2) Memakai sarung tangan plastic. 3) Kuku pemeriksa harus dipotong tumpul, rata, licin dan tidak boleh memakai cincin. 4) Melakukan pemeriksaan dengan tangan kanan atau kiri sesuai kebiasaan. 5) Waspada terhadap sepakan (tendangan) kaki sap

Pemeriksaan dan Manajemen Kebuntingan Ternak

Setelah hewan di IB maupun kawin alami perlu pemeriksaan kebuntingannya sedini mungkin. Hal ini sangat diperlukan untuk mencapai tujuan reproduktivitas satu anak satu tahun. Berarti juga perlu diperhatikan “day open” yaitu sapi harus kawin paling lambat 3 bulan setelah partus, tetapi periode waktu ini akan sangat riskan sebab jarang sekali terjadi kebuntingan dalam 1 kali perkawinan. Dengan demikian sapi sudah mulai dikawinkan oleh inseminator pada siklus normal ke 2 yaitu sekitar 56-60 hari postpartum tetapi bila belum juga bunting dan siklus birahi normal maka IB ke 3 kalinya, satu anak dalam satu tahun masih dapat dicapai. Pada sapi involusi uteri komplit baru terjadi 56-60 hari postpartum, tetapi akan diperpanjang bila ada penyebab lain. Kalau kawin dan terjadi pembuahan sebelum 60 hari maka banyak yang tidak bisa implantasi. Tujuan lain dalam melakukan diagnosa kebuntingan sedini mungkin adalah untuk menghindari anestrus berkepanjangan yang diakibatkan oleh gangguan fungsi atau pe

Perubahan Alat Kelamin Ternak Betina Ketika Bunting

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam alat kelamin betina pada saat kebuntingan : 1) Perubahan pada Uterus Pada ternak yang mengalami kebuntingan maka akan terjadi perubahan-perubahan pada uterusnya, seperti : a) Terjadi vaskularisasi pada endometrium. b) Terbentuknya lebih banyak kelenjar endo metrium. c) Myometrium menjadi tenang yaitu tidak mengalami kontraksi lagi. d) Setelah terjadi implan tasi, penyaluran makanan dari induk ke anak lebih lancar. Ada hubungan yang lebih erat dari trophoblast dengan pembuluh-pembuluh darah pada endometrium. e) Terjadi pertukaran zat makanan dari induk ke anak dan zat buangan dari anak ke induk. Hal ini terjadi sejak terjadinya implantasi yang juga disertai oleh terbentuknya anyaman pembuluh darah. Pada saat kebuntingan juga terjadi pembesaran volume uterus. Dimana pada saat permulaan kebuntingan sebagian besar di sebabkan oleh pertambahan cairan amnion dan allantois, tetapi pada pertengahan kebuntingan maka pertambahan volume cairan menjadi hampir

Cara Mengetahui Ternak Sedang Bunting Atau Tidak

Pengetahuan tentang apakah ternak yang dipelihara mengalami kebuntingan atau tidak adalah sangat penting. Ada beberapa cara untuk membantu mendiagnose / mengetahui suatu ternak bunting atau tidak. Berbagai cara yang dapat dilakukan adalah : 1) Ternak tidak mengalami berahi lagi Sebagai indikasi kebuntingan yang cukup sederhana dan efektif adalah bahwa setelah 45 hari setelah perkawinan ternak tersebut tidak berahi lagi. Cara ini akan ada juga melesetnya karena ada ternak-ternak tertentu yang mengalami silent heart (berahi tenang). Hal ini bisa disebabkan karena dalam ovariumnya terdapat corpus luteum yang persisten. 2) Perubahan kontur abdomen. Pada ternak yang bunting maka akan terjadi penurunan pada dinding abdominal (pelebaran abdomen). 3) Pemeriksaan dapat juga dilakukan dengan palpasi per rektum yaitu dengan cara memasukkan tangan dalam rektum dan meraba organ- organ reproduksi tertentu. Untuk ini dibutuhkan seorang yang ahli dan terampil. Diagnose kebuntingan ini didasarkan kepad

Tahap/Periode Pembuahan pada Ternak

Pertumbuhan mahluk baru hasil fertilisasi atau pembuahan antara ovum dengan spermatozoa, dapat dibedakan tiga tahap/periode yaitu : 1) periode ovum yaitu periode yang dimulai dari fertilisasi sampai implantasi. 2) Periode embrio yaitu periode dari saat terjadinya implantasi sampai saat dimulainya pem bentukan alat- alat tubuh bagian dalam. 3) Periode fetus yaitu periode terakhir yaitu dimulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam dan extremitas (anggota tubuh) sampai terjadi kelahiran. Pengetahuan tentang apakah ternak yang dipelihara mengalami kebuntingan atau tidak adalah sangat penting.

Definisi Kebuntingan pada Hewan

Kebuntingan Dilihat  dari  segi  teknis  yang dimaksud dengan kebuntingan    sebenarnya dimulai  sejak saat  sel kelamin betina bersatu dengan sel kelamin jantan didalam saluran alat reproduksi paling atas atau ovoduct dan tepatnya dibagian ampula. Sedangkan Frandson (1992) mengatakan bahwa kebuntingan berarti keadaan dimana anak sedang berkembang didalam uterus seekor hewan betina. Satu periode kebuntingan adalah periode dari mulai terjadinya fertilisasi sampai terjadinya kelahiran normal. Pada ternak sapi fertilisasi terjadi setelah 11 sampai 15 jam dari inseminasi/perkawinan. Sedangkan untuk manusia, fertilisasi ini akan terjadi 14 sampai 15 hari setelah terakhir menstruasi.

Hal-hal yang Perlu Dipelajari dalam Pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB)

Hal-hal yang perlu dipelajari dalam pelaksanaan IB adalah : (1) menyediakan semen. (2) menyiapkan peralatan dan bahan penunjang. (3) mengoperasionalkan IB. (4) merawat peralatan IB dan. (5) mencatat pelaksanaan IB secara detil. Inseminasi buatan merupakan satu alat yang ampuh yang pernah diciptakan manusia untuk meningkatkan populasi dan produksi hewan baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Teknik Inseminasi buatan sudah sangat meluas dan sudah populer terutama dalam bidang peternakan khususnya lagi pada sapi, ayam, domba, kambing dan babi. Dalam praktek, prosedur inseminasi buatan tidak hanya meliputi deposisi atau penyampaian semen kedalam saluran kelamin betina, tetapi mencakup juga seleksi dan pemeliharaan pejantan, penam-pungan, penyimpanan atau pengawetan (pendinginan dan pembekuan) dan pengankutan semen, inseminasi, pencatatan dan penentuan hasil inseminasi pada hewan betina serta bimbingan dan penyuluhan peternak khususnya bagi penerapan IB dibidang peternakan.

Definisi Inseminasi Buatan (IB)

Inseminasi buatan adalah merupakan terjemahan dari artificial insemination (Inggris), kunstmatige inseminatie (Belanda), insemination artificielle (Prancis), atau künstliche besamung (Jerman). Artificial artinya tiruan atau buatan. Insemination berasal dari bahasa latin inseminatus; ”in” artinya pemasukkan, penyampaian atau deposisi, sedangkan ”semenatus” adalah cairan yang mengandung sel-sel kelamin jantan yang diejakulasikan melalui penis pada waktu kopulasi atau penampungan. Jadi menurut definisi, inseminasi buatan adalah pemasukan atau penyampaian semen kedalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia, jadi bukan secara alami. Inseminasi buatan juga merupakan suatu perkawinan dengan menggunakan teknologi dengan bantuan manusia dimana dengan IB ini diharapkan dapat memperbaiki ternak-ternak yang mempunyai genetik jelek yang ada di seluruh dunia ini diganti dengan bibit-bibit yang genetiknya baik, sehingga dapat meningkatkan baik populasi maupun produktivita

Inseminasi Buatan - Metoda Cervix (Speculum)

Metoda Cervix (Speculum) Inseminasi dengan metoda cervix yaitu memasukkan spekulum yang steril (diameter 2-3 cm dan panjang 35 – 40 cm) kedalam vagina. Dengan menggunakan sumber lampu diujung speculum atau lampu di pasang di kepala inseminator), speculum dapat dimasukkan kedalam muka atau mulut cervix (lihat Gambar 2). Biasanya speculum dapat dimasukkan hingga 1 – 2 cm kedalam cervix dan semen dideposisikan ditempat itu. Metoda ini jauh lebih baik daripada mendeposisikan dibagian vagina (Metode vagina) tetapi biasanya 10 – 12 persen angka konsepsinya lebih rendah bila dibandingkan dengan metode rekto-vagina. Kerugian lainnya dari metode ini yaitu speculum harus disterilkan dahulu. Ga mb a r 2 . I n sem in a si cerv i x (Spec u l u m)

Inseminasi Buatan - Metoda Rekto-Vagina

Metoda Rekto-Vagina Inseminasi Buatan (IB) adalah proses penempatan sperma kedalam alat reproduksi betina dengan menggunakan alat bantu, selain kawin alam. Ada beberapa teknik untuk menginseminasi sapi. Salah satu metoda yang paling popular dan paling baik adalah metoda rekto-vagina. Metoda ini sederhana (simple) tetapi agak sulit untuk dipelajari, karena metoda ini memerlukan banyak latihan. Metoda inseminasi Recto-vagina juga disebut metoda fixasi cervix. Metoda ini cukup mudah (diatas disebutkan agak sulit). Untuk menguasai metoda ini siswa harus banyak berlatih. Caranya yaitu dengan memasukkan tangan kiri yang dilapisi dengan plastik (glove), di lumasi dengan sedikit pelumas (Jelly) ke dalam rektum sapi. Kemudian tangan kiri berada dan memegang cervix (Gambar 1). Ga mb a r 1. I n sem in a si R e kt o- v a g in a Cervix dapat dibedakan dengan uterus ataupun dengan vagina, karena memiliki dinding yang tebal (Bearden dan Fuquay, 2000). Alat inseminasi dimasukkan melalui vulva ke dal